Cari Blog Ini

Memuat...

Arsip Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 12 Maret 2011

Contoh Askep Keluarga

FORMAT PENGKAJIAN PADA KELUARGA

Tempat Praktek           : POSYANDU DESA KEPANJEN, JOMBANG
Nama Mahasiswa        : KELOMPOK IV
NIM                            :
Tanggal pengkajian     : 29 oktober 2010

PENGKAJIAN
  1. Data Umum
1. Kepala keluarga (KK)         : Bapak Ismu
2. Alamat dan telepon             : RT/ 02,RW/ III Dusun Jatipelem,Desa Jatipelem
3. Pekerjaan KK                      : Pedagang kain keliling
4. Pendidikan KK                   : SD
5. Komposisi Keluarga            :


NO.
Nama
Jenis
Kelamin
Hub. Kel. KK
Umur
Pendi
Dikan
Status Imunisasi
Ket.
BCG
Polio
DPT
Hepatitis
Campak
1.
Ny. S
PR
Istri
35 th
SMP











Sehat
2.
An. A
PR
Anak
16 th
SMP











Sehat
3.
An. B
PR
Anak
11 th
SD











Sehat
4.
An. Z
LK
Anak
3 th
-
Kurang Gizi

GENOGRAM





6. Tipe keluarga           : Nuclear
7. Suku bangsa            : Jawa
8. Agama                     : Islam
9. Status ekonomi keluarga:Penghasilan keluarga kurang lebih Rp.1.500.000,- per bulan yang diperoleh dari hasil jualan kain keliling.
10. Aktivitas rekreasi keluarga : Menonton televisi

II. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga.
1.      Tahap perkembangan keluarga saat ini :
Anak tertua berusia 16 tahun,saat ini sekolah di SMP.Jadi keluarga berada pada tahap keluaraga dengan usi remaja,dengan tugas perkembangan pengembangan terhadap remaja,memelihara komunikasi terbuka,memelihara hubungan intim dalam keluarga,mempersiapkan perubahan sistem peran.
2.      Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi:
Tidak ada tahap perkembangan keluarga sampai saat ini yang belum terpenuhi.Namun,tugas keluarga yang belum dicapai saat ini adalah kurangnya pemeliharaan komunikasi yang terbuka,hubungan intim dalam keluarga dan kurangnya persiapan perubahan sistem peran.
3.      Riwayat kesehatan keluarga inti
Menurut ibu ”S” riwayat masing-masing anggota keluarganya yaitu bapak ”I” dalam keadaan sehat,tidak pernah sakit serius.Sedangkan ibu ”S” keadaannya juga sehat,tidak pernah sakit serius.Tapi anak ”A” sedang mengalami nyeri perut karena menstruasi.Dan anak yang kedua,anak ”B” keadaanya juga sehat dan tidak pernah mengalami sakit serius.Sedangkan anak yang ketiga,yaitu anak ”Z” saat ini menderita kurang gizi,status imunisasi saat balita lengkap semua dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan posyandu yang ada didesanya.
4.      Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
·         Riwayat keluarga dari pihak bapak ”I” : Bapak dari bapak ”I” sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena menderita DM.Ibu bapak ”I” sehat dan sekarang tinggal bersama kakak perempuan bapak ”I” di desa lain.
·         Riwayat keluarga dari pihak ibu ”S” : Bapak dari ibu ”S” sudah meninggal 7 tahun yang lalu secara mendadak akibat serangan jantung (kata masyarakat sekitar rumah adiknya).Sedangkan ibunya ibu ”S” menderita hipertensi dan terkena stroke sejak 5 bulan yang lalu,tinggal bersama adik ibu ”S”.

III. Data Lingkungan
1.      Karakteristik rumah
Status rumah yang ditempati adalah rumah milik sendiri

Denah Rumah

Keterangan denah :
1.      Ruang tamu
2.      Kamar anak ”A”
3.      Kamar anak ”B”
4.      Kamar bapak ”I”,Ibu ”S” dan anak ”Z”
5.      Dapur
6.      Ruang makan
7.      Kamar mandi
8.      Tempat penjemuran pakaian
9.      Tempat Televisi
2.      Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Tetangga sebelah kanan dan kiri rumah bapak ”I” kuranng begitu akrab dengan keluarga bapak ”I”,karena bapak ”I” jarang dirumah (menjual kain keliling) dan ibu”S” jarang keluar rumah,keluar rumah jika berbelanja saja.
3.      Mobilitas geografis keluarga
Keluarga ini tidak pernah pindah tempat tinggal sejak menikah (1993),menetap di Jatipelem.Bapak ”I” bekerja menjual kain keliling sehingga jarang dirumah.Ibu ”S” sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga,mengasuh ke 3 anaknya dengan dibantu anak ”A”mengerjakan pekerjaan rumah tangga yaitu menyetrika baju dan memberi mamelihara ayam.Anak”B” masih sekolah SD,berangkat pagi hari dan pulangnya sore hari.Sedangkan anak ”Z”,anak sulung ibu ”S” belum sekolah.
4.      Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.
Keluarga bapak ”I” tidak pernah mengikuti kegiatan sosialisasi dilingkungan sekitarnya.
5.      Sistem pendukung keluarga
Saat ini anggota keluarga ada yang tidak sehat,anak ”Z”mengalami kurang gizi,ibu ”S” berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi anak ”Z” selain itu juga mendapat  bantuan dari program posyandu (PMT)

IV. Srtuktur Keluarga
1.      Struktur peran
Peran kepala keluarga mencari nafkah,tugas istri merawat anak,pendidikan anakdilakukan bersama.Model peranyang dianut lebih dominan di ibu dan terjadi sedikit konflik peran karena jarangnya berkomunikasi antar anggota keluarga terutama anak ”A” dan Ibu”S”.
2.       Nilai atau norma keluarga
Nilai dan norma yang berlaku dikeluarga menyesuaikan dengan nilai agama yang dianut dan norma yang berlaku di lingkungannya.Norma keluarga yang berkaitan dengan kesehatan adalah bila ada keluarga yang sakit hanya dibelikan obat diwarung/toko terdekat.Sedangkan anak yang paling kecil dibawa ke posyandu.Dalam setiap hari keluarga menjalani hidup dengan tuntunan agama islam.
3.      Pola komunikasi keluarga
Pola komunikasi keluarga dilakukan secara terbuka,bahasa yang dipakai setiap hari adalah bahasa jawa. Frekuensi komunikasi antar anggota keluarga cukup baik,tetapi anak ”A” dan ibu ”S” jarang berkomunikasi dikarenakan ibu ”S” selalu mengatakan tidak boleh,tidak baik dsb.Sedangkan ayahnya jarang dirumah karena berjualan kain keliling dan kalau pulang sudah kelihatan capek.
4.      Struktur kekuatan keluarga
Pengendali keluarga adalah bapak ”I” sebagai kepala keluarga,keputusan diambil seharusnya oleh kepala keluarga.akan tetapi karena kesibukan bapak ”I” maka pengambilan keputusan yang mendesak diambil alih oleh ibu ”S”.
V.    Fungsi keluarga
1.      Fungsi ekonomi
Keluarga kurang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,dibuktikan dengan adanya salah satu anggota keluarga yang menderita kurang gizi yaitu anak ”Z”.
2.      Fungsi mendapatkan status sosial
Keluarga tidak mempermasalahkan status sosialnya dimasyarakat,dengan kondisi yang seperti itu.
3.      Fungsi pendidikan
Orang tua hanya mampu menyekolahkan anak pertama sampai tingkat SMP saja.
4.      Fungsi sosialisasi
Interaksi antar anggota dalam keluarga jarang dilakukan karena kesibukan masing-masing anggota keluarga.Begitu juga dengan masyarakat sekitarnya.Dan anak ”A” juga jarang bergaul dengan teman-teman sekitarnya.
5.      Fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan kesehatan)
a.       Mengenal masalah kesehatan
      Keluarga mengenal masalah kesehatan yang dialami anak ”A” (kurang gizi) setelah anak dibawah ke posyandu untuk pemeriksaan rutin.
b.      Mengambil keputusan  mengenai tindakan kesehatan
Untuk masalah kesehatan anak ”Z” yang mengalami kurang gizi,ibu merasa takut dengankondisi tersebutsehingga ibu tidak mau lagi untuk membawa ke posyandu.karena ibu merasa anaknya sudah diimunisasi lengkap tapi masi saja terkena gizi buruk.
c.       Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
         Keluarga hanya dapat merawat anggota keluarga yang sakit dengan semampunya karena kondisi ekonomi yzng kurang.
d.      Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan yang sehat
      Keluarga beranggapan bahwa dengan hanya menyapu saja rumah sudah dianggap bersih dan sehat.Kamar mandi dibersihkan 1 kali seminggu sudah dianggap bersih dan terbebas dari jentik-jentik nyamuk yang bisa menyebabkan penyakit DBD.
e.       Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
      Keluarga tidak mau membawa anggota keluarga yang sakit ketempat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (puskesma/rumah sakit)karena jaraknya yang terlalu jauh.
6.        Fungsi Religius
Kelurga biasa berdoa untuk meminta kesehatan dan lain-lain setelah selesai menjalankan ibadah sholat.
7.        Fungsi Rekreasi
Keluarga jarang melakukan rekreasi di dalam maupun luar kota tempat tinggalnya secara bersama-sama, mereka pergi ke luar kota hanya pada saat lebaran. Sehari-hari hanya menonton Televisi bersama.
8.        Fungsi Reproduksi
Keluarga mengatakan tidak ingin mempunyai anak lagi. Tetapi ibu “S” tidak mengikuti KB. Jumlah anak 3 orang, 2 wanita dan 1 laki-laki, jarak anak pertama dan kedua 5 tahun, jarak anak kedua dan ketiga 8 tahun.
9.        Fungsi Afeksi
Keluarga mengajarkan agar anak tertua memperhatikan adik-adiknya yang masih sekolah untuk membantu keluarga. Sikap saling menghormati antar anggota keluarga masih tetap diajarkan.

VI.        Stres dan Koping Keluarga
1.        Stresor jangka pendek dan panjang
Ibu “S” mengatakan masalah yang membebaninya sekarang adalah keadaan anak “Z” yang mengalami kurang gizi.
2.        Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Keluarga hanya mengatasi dengan memenuhi kebutuhan gizi semampunya dengan kondisi ekonomi yang minimal.
3.        Strategi koping yang digunakan
Jika ada masalah ibu “S” membicarakannya dengan bapak “I” untuk di musyawarahkan.
4.        Strategi adaptasi disfungsional
Bila anak “B” sulit untuk dinasehati ibu “S” kadang-kadang langsung masuk kamar dan bila ada masalah berat ibu “S” sering sakit kepala dan kadang-kadang menangis tetapi bila masalah sudah dibicarakan bersama, biasanya ibu “S” tenang kembali.

VII.     Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga
Ø  Ayah “I”
ü  Kepala                        : Rambut bersih, mata simetris, hidung simetris dan bersih,   mulut ( lidah,gigi ) bersih, telinga bersih dan simetris.
ü  Leher                          : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
ü  Dada                           :  Bentuk simetris, jantung ( tidak mengalami riwayat penyakit jantung ), paru-paru ( tidak mengalami riwayat penyakit paru-paru ).
ü  Ekstremitas atas         : Jari-jari tidak sianosis, kuku tangan kotor.
ü  Ekstremitas bawah     : Jari-jari tidak sianosis, kuku kaki kotor, tidak ada riwayat penyakit pada ekstremitas bawah.
ü  Perut                           :  Simetris, tidak ada kelainan dalam system pencernaan, tidak ada riwayat penyakit system pencernaan.

Ø  Ibu “S”
ü  Kepala                        : Rambut bersih, mata simetris, hidung simetris dan bersih, mulut ( lidah,gigi ) bersih, telinga bersih dan simetris.
ü  Leher                          : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
ü  Dada                           :  Bentuk simetris, jantung ( tidak mengalami riwayat penyakit jantung ), paru-paru ( tidak mengalami riwayat penyakit paru-paru ).
ü  Ekstremitas atas         : Jari-jari tidak sianosis, kuku tangan bersih.
ü  Ekstremitas bawah     : Jari-jari tidak sianosis, kuku kaki bersih, tidak ada riwayat penyakit pada ekstremitas bawah.
ü  Perut                           :  Simetris, tidak ada kelainan dalam system pencernaan, tidak ada riwayat penyakit system pencernaan.
ü  Alat vital                    : Bersih, tidak ada riwayat penyakit pada alat reproduksi.

Ø  Anak “A”
ü  Kepala                        : Rambut kotor, mata simetris, hidung simetris dan bersih, mulut ( lidah,gigi ) bersih, telinga bersih dan simetris.
ü  Leher                          : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
ü  Dada                           :  Bentuk simetris, jantung ( tidak mengalami riwayat penyakit jantung ), paru-paru ( tidak mengalami riwayat penyakit paru-paru ).
ü  Ekstremitas atas         : Jari-jari tidak sianosis, kuku tangan bersih.
ü  Ekstremitas bawah     : Jari-jari tidak sianosis, kuku kaki bersih, tidak ada riwayat penyakit pada ekstremitas bawah.
ü  Perut                           :  Simetris, tidak ada kelainan dalam system pencernaan, tidak ada riwayat penyakit system pencernaan.
ü  Alat vital                    : Bersih, mengalami disminorhea pada waktu menstruasi.

Ø  Anak “B”
ü  Kepala                        : Rambut bersih, mata simetris, hidung simetris dan bersih, mulut ( lidah,gigi ) bersih, telinga bersih dan simetris.
ü  Leher                          : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
ü  Dada                           :  Bentuk simetris, jantung ( tidak mengalami riwayat penyakit jantung ), paru-paru ( tidak mengalami riwayat penyakit paru-paru ).
ü  Ekstremitas atas         : Jari-jari tidak sianosis, kuku tangan bersih.
ü  Ekstremitas bawah     : Jari-jari tidak sianosis, kuku kaki bersih, tidak ada riwayat penyakit pada ekstremitas bawah.
ü  Perut                           :  Simetris, tidak ada kelainan dalam system pencernaan, tidak ada riwayat penyakit system pencernaan.
ü  Alat vital                    : Bersih, tidak ada riwayat penyakit pada alat reproduksi.

Ø  Anak “Z”
ü  Kepala                        :  Rambut merah, mata simetris, mata cowong, hidung bersih, mulut bersih.
ü  Leher                          : Leher  : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
ü  Dada                           :  Bentuk simetris, jantung ( tidak mengalami riwayat penyakit jantung ), paru-paru ( tidak mengalami riwayat penyakit paru-paru ).
ü  Ekstremitas atas         : Jari-jari tidak sianosis, kuku tangan bersih.
ü  Ekstremitas bawah     : Jari-jari tidak sianosis, kuku kaki bersih, tidak ada riwayat penyakit pada ekstremitas bawah.
ü  Perut                           : Simetris, tampak buncit, tidak ada kelainan dalam system pencernaan, tidak ada riwayat penyakit system pencernaan.
ü  Alat vital                    : Bersih, tidak ada riwayat penyakit pada alat reproduksi.

VIII.  Harapan Keluarga
Anak “Z” ketika dibawa ke posyandu di katakana menderita kurang gizi dan keluarga berharap petugas dapat membantu mengatasi masalah anak “S”.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ijin liat ^^

hafifah parwaningtyas mengatakan...

Oke boz.. silahkan2..