Cari Blog Ini

Memuat...

Arsip Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 01 Maret 2011

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA PRASEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Pada usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik tetapi juga secara sosial dan emosional. Anak usia prasekolah ini sedang dalam proses awal pencarian jati dirinya. Beberapa prilaku yang dulunya tidak ada, sekarang muncul. Secara fisik dan psikis usia ini adalah usia yang rentan berbagai penyakit yang akan mudah menyerang anak usia ini dan menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang jika kondisi kesehatan anak tidak ditangani secara baik oleh para praktisi kesehatan yang juga usaha-usaha pencegahan adalah usaha yang tetap paling baik dilakukan.
Berkaitan dengan uraian diatas maka dalam makalah ini penulis menguraikan beberapa masalah kesehatan yang banyak dijumpai pada anak usia ini serta usaha pencegahan dan penanganannya terutama yang berkaitan dengan tindakan keperawatan dan menyangkut satu masalah yang paling menonjol sehingga muncul satu diagnosa keperawatan.

1.2         Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1.    Mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan anak usia prasekolah
2.    Mempelajari asuhan kerperawatan keluarga pada anak usia prasekolah
3.    Untuk menamba pengetahuan tentang asuhan keperawatan keluarga khusunya pada anak usia prasekolah

1.3.    Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
1.    Bagi mahasiswa agar sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu tersebut atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan baik dan benar.
2.    Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Prasekolah (3-5 Tahun)
Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin besar dan dapat mengembangkan pola sosialisasinya. Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri seperti mandi, makan, minum, mengosok gigi, BAB dan BAK, dll.

2.2         Bimbingan Selama Fase Prasekolah
          Usia 3 Tahun
  Persiapkan orang tua untuk peningkatan ketertarikan anak dalam hubungan yang lebih luas.
  Anjurkan untuk mendaftarkan anak ke TK.
  Tekankan tentang pentingnya pengaturan waktu,
  Anjurkan orangtua untuk menawarkan pilihan-pilihan ketika anak sedang ragu/bimbang.
  Perubahan pada usia 3 ½ tahun : anak akan menjadi kurang koordinasi (antatorik dan emosi), gelisah dan menunjukkan perubahan tingkah laku seperti bicara gagap.
  Orang tua harus memberikan perhatian yang extra sebagai refleksi dari kegelisahan emosi anak dan rasa takut anak kehilangan kasih sayang orang tua.
  Ingatkan orang tua tentang keseimbangan yang telah dicapai pada usia 3 tahun akan berubah menjadi tingkah laku yang agresif pada usia 4 tahun.
  Antisipasi tentang adanya perubahan nafsu makan, seleksi makanan anak.
  Tekankan tentang perlunya perlindungan dan pendidikan untuk mencegah cedera.



Usia 4 Tahun
  Persiapakan pada tingkah laku anak yang lebih agresif, termasuk aktivitas motorik dan penggunaan bahasa-bahasa yang mengejutkan.
  Bersikap menentang terhadap orangtua
  Explorasi perasaan ortu berkenaan dengan tingkah laku anak.
  Masukkan anak ke TK
  Persiapan untuk peningkatan keinginan tahuan anak tentang sex.
  Tekankan tentang pentingnya menanamkan disiplin pada anak.
  Anjurkan untuk belajar berenang jika belum dilakukan pada usia sebelumnya.
  Adanya mimpi buruk; beritahu orangtua bahwa anak, sering anak terbangun karena adanya mimpi yang menakutkan.
  Tenangkan Ibu, bahwa masa yang tenang pada anak dimulai pada usia 5 tahun.
Usia 5 Tahun
  Masa tenang pada usia 5 tahun
  Siapkan anak untuk memasuki lingkungan sekolah.
  Pastikan kelengkapan immunisasi sebelum memasuki sekolah.

2.3         Masalah-masalah Kesehatan Yang Timbul Pada Anak Usia Prasekolah
NO
MASALAH / PENYAKIT
MANAJEMEN TERAUPETIK DAN KOMPLIKASI
PERTIMBANGAN
KEPERAWATAN

1.
Diare (Gastroenterologi)
Agen pembuka : Bakteri dan virus.

Sumber :
Makanan basi,
beracun, alergi
terhadap makanan

Masa Inkubasi :
Bayi : BAB ≥ 3x / 24 jam
Anak : BAB ≥ 3x / 24 jam

Manifestasi Klinis :
Bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meninggi cair dan mungkin
disertai dengan lendir atau darah.
Komplikasi :
Dehidrasi
Renjatan hipovelemik
Hypocalanta
Intoleransi laktosa  sekunder
Kejang
KEP
Obat:
Anti sekresi
Anti spasmolitik
Pengeras tinja
Anti biotika

- Memberikan cairan\
- Diatelik (pemberian makanan)

2.
Variacela (cacar air)
Agen pembawa :
Variacell Zooster

Sumber : Sekresi primer saluran pernafasan dan organ terinfeksi, pada tingkatan lesi kulit yang lebih rendah.

Transmisi :
Kontak langsung terkontaminasi oleh objek penularan.

Masa Inkubasi :
2 –3 minggu biasanya 13-17 hari.

Masa Penularan :
Biasanya 1 hari setelah erupsi lesi (masa awal) sampai 6 hari setelah banyak muncul vesikel ketika kerak kulit terbentuk.
Manifestasi Klinis :
Tahap Awal :
Demam ringan, malaise, anorexia, pertama kali 24 jam,
ruam dan gatal sekali, mulai muncul makula, dengan cepat
berkembang menjadi papula dan menjadi vesikel (dikelilingi oleh dasar eritematosus menjadi gelembung,mudah pecah dan membentuk (kerak). Ketiga
tahapan (Papula, vesikel dan kerak kulit) hadir dalam tingkatan berbeda dalam waktu yang sama.

Distribusi :
Sentripetal, menyebar ke wajah dan tubuh tapi jarang pada tungkai dan lengan.

Gejala :
Elevasi suhu dari limfadenopaty, iritasi dari gatal-gatal.
Kekhususan :
Biasanya tidak ada, agent
anti viral (ocyclovir) untuk
resiko tinggi anak terinfeksi, Varicella Zooster immunoglobin
(VZIG) setelah pembukaan
pada anak yang beresiko
tinggi.

Obat :
Diphenhidramin
hydrokhlorida atau antihistamin untuk menghilangkan gatal;
perawatan kulit untuk
mencegah infeksi bakteri
kedua.

Komplikasi :
Infeksi pada tahap
kedua (bisu, selulitis,
pneumoni,sepsis).
Enchepalitis
Varicella Pneumoni
Peredaran Varicella
(perdarahan kecil pada
vesikel dan ptekia pada
kulit).
Kronik atau transsient
trombositopenia.

Ø   Lakukan isolasi ketat dirumah sakit.
Isolasi anak
dirumah sampai
vesikel mengering
(biasanya 1 mingu setelah terinfeksi) dan
isolasi anak yang
beresiko tinggi terinfeksi.
Beri perawatan
kulit; mandi dan berganti pakaian setiap hari, beri olesan lotion; calamine; potong dan bersihkan
kuku.
Mengurangi gatalgatal.
Hindari mengupas
kulit kerak yang
menggosok dan
membuat iritasi.

3.
Difhteria
Manifestasi Klinis :
Bervariasi menurut lokasi anatomi
Pseudomembran.

Nasal :
Menyerupai flu, nasal
mengeluarkan serosanguineous mukous
purulent tanpa gejala-gejala
pokok: tampak seperti epistaksis.
Tonsilar/pharyingeal :
Malaise, anorexia, tenggorokan sakit, sedikit demam, pulse meningkat dari yang diharapkan selama 24 jam, membran melembut, putih atau abu-abu; timbulnya limfadenitis jika penyakitnya parah timbul toximea, septik syok, dan meninggal dalam 6-10 hari.
Lharyngeal :
Demam : serak, batuk, tanpa ada tanda awal, potensial
penghambatan jalan udara, gelisah, cyanosis, retraksi
dyspnieu.
Antitoksin (biasanya
melalui intravena diawali dengan test kulit dan konjungtiva untuk mengetes sensitifitas terhadap serum.

Antibiotik (penisillin
atau erythromycin).
Bedrest total (pencegahan miokarditis)
Tracheostomy untuk
penghambatan jalan udara.
Perawatan carrier dan
kontak terhadap orang
yang terinfeksi.
Komplikasi :
Miokarditis (minggu kedua), neuritis.

Lakukan isolasi
ketat di rumah sakit.
Berpartisipasi
pada test sensitifitas; beri epineprin jika ada
Beri antibiotik,
amati tanda-tanda
sensitifitas terhadap penisilin.
Gunakan suction
jika perlu
Beri perawatan
komplit untuk memperoleh bedrest.
Atur kelembaban
untuk pencairan
optimum sekresi.
Amati respirasi
untuk tanda-tanda
penghambatan.

4.
Rubeola (campak)
Agent pembawa : Virus

Sumber :
Sekresi saluran nafas,darah dan urine dari orang yang terinfeksi.


Transmisi :
Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Masa inkubasi : 10 – 20 hari.

Periode penularan :
Dari 4- 5 hari setelah ruam-ruam muncul tetapi terutama
selama tahapan awal (catharal).
Manifestasi klinis :
Fase prodromal :
Tidak dijumpai pada anak-anak, namun dijumpai pada remaja dan dewasa yang ditandai dengan demam ringan, sakit kepala, malaise,
anorexia, konjungtivitis ringan, coryza, sakit
kerongkongan, batuk dan limfadenopaty. Paling sedikit 1-5 hari, menghilang 1 hari setelah terjadinya ruam.

Ruam :
Pertama kali muncul di wajah dan dengan segera menyebar
keleher, lengan batang tubuh dan kaki.
Diakhiri hari pertama ditutupi dengan bercak-bercak kemerahan makulo pupalar, biasanya hilang pada hari
ketiga.

Tanda dan gejala :
Demam ringan yang muncul kadangkadang, sakit kepala,
malaise dan limfadenopaty.
Tidak ada perawatan lain
yang perlu kecuali antipiretik untuk demam
dan analgesik untuk nyeri.
Komplikasi :
Jarang terjadi (arthtritis,
enchepalitis, atau purpura); penyakit-penyakit menular yang sering dijumpai pada masa anak-anak; bahaya
terbesar adalah efek
teratogenik pada janin.

Yakinkan
orangtua bahwa
vesikel-vesikel adalah suatu proses penyakit  yang alami pada anak-anak yang terinfeksi.
Gunakan sentuhan lembut jika diperlukan
Jauhkan anak dari
wanita hamil.

5.
Pertusis
Agent :
Bordettela pertusis

Sumber :
Masuknya dari saluran
pernafasan dari seseorang
yang terinfeksi.

Penularan :
Kontak langsung dan droplet.

Masa inkubasi :
5-21 hari, biasanya 10hari.

Perkembangan :
Yang paling besar selama catharal (radang selaput lendir)
sebelum munculnya (kambuhnya kembali dan menghilang pada minggu ke 4 setelah munculnya kembali
gejala penyakit).

Manifestasi klinik :
Stadium kataralis
Batuk ringan pada malam hari, anorexia
Stadium spasmodik
Batuk bertambah berat dan terjadi paroximal berupa
batuk-batuk khas, keringat, dilatasi pembuluh darah leher dan muka, muka merah, sianosis.
Stadium konvalensi
Pada minggu ke-4 beratnya serangan batuk berkurang nafsu makan timbul kembali,
ronchi difus mulai menghilang.
Pemberian antibiotik
Eythromycin, ampisillin,
kotrimaxazol, khloramfenikol,
expextoransia dan mukolitik, codein diberikan bila terdapat batuk yang hebat sekali.
Luminal.
Komplikasi :
Otitis media, bronkitis,
bronkop neumonia,
ateletaksis, emfisema,
muntah-muntah berat,
emasiasi, prolapsus rectum, kongesti dan
edema otak.

Anjurkan untuk
bedrest
Berikan kompres
panas dan dingin.
Berikan diit makanan cair dan lunak

6.
Parasitis intestinal Askariasis
Agent
Askaris lumbricoides.

Sumber :
Faeces

Masa Inkubasi :
2-3 minggu

Manifestasi Klinis :
Infeksi ringan
Asimptomatik
infeksi berat
anorexia, iritabilitas, ketakutan, perut besar, penurunan berat badan, demam dan kolik.
Infeksi parah
gangguan usus, usus buntu, perforasi usus dengan peritonitis, gangguan empedu,
paru dan pneumonitis.
1. Piperazin sitrat
(antepar)
2. Hexilresorsinol
3. Oleumkenopodii
4. Santonin
5. Pirantel pamoat
(combantrin)
6. Papain (fellardon

Memberikan penyuluhan pada
orangtua pentingnya
menjaga higienis dan
sanitasi lingkungan.


2.4         Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak Prasekolah yang Menderita Diare
A.  PENGKAJIAN
1.    Data Umum
·     Kepala Keluarga (KK)
·     Alamat dan telepon
·     Pekerjaan KK
·     Pendidikan KK
·     Komposisi keluarga
(Daftar nama-nama anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Nama, Jenis Kelamin, Umur penderita, hubungan dengan Kepala Keluarga dan status imunisasi serta Genogram. Garis keturunan atau silsilah keluarga dari tiga generasi apakah ada yang menderita diare/diare kronis sebelumnya.)
No.
Nama
Jenis
Hub.
Kel.
KK
Umur
Pendidikan
Status imunisasi
Ket.
BCG
Polio
DPT
Hepatitis
Campak
1
2
3
1
2
3
1
2
3










































































·     Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
·     Suku bangsa
Adat istiadat di tempat tinggal keluarga, suku bangsa, agama, sosial, budaya, rekreasi, kegiatan pendidikan, kebiasaan makan dan berpakaian. Adanya pengaruh budaya pada peran keluarga dan kekuatan struktur, bentuk rumah, bahasa yang digunakan sehari-hari, komunikasi dalam keluarga, penggunaan  tempat pelayanan kesehatan.
·     Agama
Agama yang dianut dalam keluarga dan kegiatan agama yang aktif diikuti.
·     Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga, yang terdiri dari lima tingkatan yaitu : Keluarga Prasejahtera, Keluarga Sejahtera Tahap I, Keluarga Sejahtera Tahap II, Keluarga Sejahtera Tahap III dan Keluarga Sejahtera Tahap IV (III Plus).
·     Aktivitas rekreasi keluarga
Identifikasi aktivitas dalam keluarga, frekuensi aktivitas tiap anggota keluarga dan penggunaan waktu senggang.
2.    Riwayat
·      Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan setiap anggota keluarga dari yang usia bayi sampai lanjut usia
·      Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap ini ditentukan sampai dimana perkembangan keluarga saat ini dan tahap apa yang belum dilakukan oleh keluarga serta kendalanya.


·      Riwayat kesehatan keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing – masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga.
·      Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
-      Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur post matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan serta imunisasi.
-      Natal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong persalinan, penyulit persalinan.
-      Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg - 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score, ada atau tidak ada kelainan kongenital.
-      Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan,perubahan berat-badan, masalah-masalah feeding (vomiting, colic,diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.
-      Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap sebelumnya.
-      Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-tumbuhan, debu rumah
-      Obat – obat terakhir yang didapat
Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian
-      Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan
reaksinya.
-      Tumbuh kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg - 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.
3.    Data lingkungan
·      Karakteristik rumah
-   Denah rumah
-   Lingkungan : lingkungan sangat mempengaruhi pada pasien diare lingkungan dengan ekonomi keluarga menengah kebawah.
-   Macam lingkungan tempat tinggal : Tempat tinggal yang sempit,  padat, sanitasi yang tidak terjaga, lingkungan dengan keluarga  ekonomi menengah ke bawah.
·      Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat. Yang meliputi kebiasaaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang mempengaruhi kesehatan.
Mobilitas geografis keluarga : Status rumah yang dihuni oleh keluarga apakah rumah sendiri atau menyewa, sudah berapa lama tinggal di daerah tersebut, dan pindah dari daerah mana.
·      Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan oleh keluarga untuk beerkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada.

·      Sistem pendukung keluarga
Dukungan keluarga untuk meningkatkan status gizi pada balita sangat penting karena kebutuhan gizi anak dapat di penuhi dengan dukungan dari keluarga yang sangat peduli dengan gizi anak
4.    Struktur keluarga
·      Struktur peran
Menjelaskan peran masing – masing keluarga baik secara formal maupun informal dan siapa yang menjadi model peran dalam keluarga dan apakah ada konflik dalam pengaturan peran yang selama ini dijalani.
·      Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai norma yang dianut keluarga, yang berhubungan dengan kesehatan.
·      Pola komunikasi keluarga
Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di dalam keluarga dan waktu yang sering digunakan untuk berkomunikasi.
·      Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga dalam mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilaku diantaranya yang perlu dikaji adalah
a) siapa yang membuat keputusana dalam keluarga
b) bagaimana cara keluarga dalam mengambil keputusan
c) apakah keluarga merasa puas dengan pola komunikasi tersebut
5.    Fungsi keluarga
·      Fungsi ekonomi
Mengkaji tentang sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan. Dan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat, dalam upaya meningkatkan status kesehatan keluarga.
·      Fungsi mendapatkan status sosial
Menjelaskan upaya keluarga untuk memperoleh status sosial di masyarakat tempat tinggal keluarga.

·      Fungsi pendidikan
Keadaan ekonomi yang rendah sangat berkaitan dengan masalah pendidikan, ini disebabkan karena ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi dan kurangnya pengetahuan tentang masalah diare pada salah satu anggota keluarga, sehingga tidak mampu merawat anak pre school  dengan baik yang mengakibatkan kondisi bertambah buruk, dan timbul komplikasi.
·      Fungsi sosialisasi
Bagaimana interraksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, tahu budaya dan perilaku.
·      Fungsi pemenuhan (perawatan atau pemeliharaan) kesehatan
a.    Mengenal masalah kesehatan
b.   Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
c.    Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
d.   Kemampuan keluarga memelihara atau memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
e.    Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Tingkat ekonomi yang rendah dapat mengakibatkan sulutnya pengobatan dan pemenuhan gizi pada anak preschool, ketidakefektifnya keluarga dalam mengunjungi pelayanan kesehatan yang ada.
Transportasi merupakan sarana yang penting dan sangat diperlukan agar penderita mendapatkan pelayanan kesehatan dengan segera. Ketiadaan sarana transportasi menjadikan masyarakat enggan berkunjung ke pelayanan kesehatan sehingga kondisi akan semakin memburuk.
·      Fungsi religius
Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.

·      Fungsi rekreasi
Menjelaskan kemampuan dan kegiatan keluarga untuk melakukan rekreasi secara bersama baik diluar, maupun di dalam rumah.
·      Fungsi reproduksi
Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggoata keluarga.
·      Fungsi afeksi
Mengkaji gambaran diri keluarga, perasaan dimiliki dan memiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya.
6.    Stres dan koping keluarga
·      Stressor jangka pendek dan panjang
Yaitu stressor yang dialami keluarga  dalam jangka waktu krang dari 6 bulan atau lebih dari 6 bulan.
·      Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Mengkaji sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi atau stressor.
·      Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
·      Strategi adaptasi disfungsional
Menjelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi masalah.
7.    Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga
·      Pemeriksaan fisik
o    Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun


o    Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.
o    Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.
o    Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
o    Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3x dengan konsistensi encer
o    Perkemihan
Volume diuresis menurun.
o    Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan
o    Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
o    Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
o    Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
o    Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
o    Neurologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
·      Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)
o    Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer

o    Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak mengeluh buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah nafsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran
o    Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
-      Prenatal
-      Natal
-      Post natal
-      Imunisasi
-      Feeding
-      Penyakit sebelumnya
-      Alergi
-      Obat–obat terakhir yang didapat
-      Tumbuh kembang
o    Riwayat Psikososial
Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
o    Aktivitas Sehari-Hari
·      Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.
·      Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
o    Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai bisa bersepeda roda tiga.
o    Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
o    Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.
8.    Harapan keluarga
Diuraikan tentang masalah kesehatan dan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan.
B.   Diagnosa Keperawatan
1.    Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
3.    Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
4.    Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
5.    Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
6.    Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru
C.  Rencana Keperawatan
Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan         : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi
1.  Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi.
2.  Pantau intake dan output.
3.  Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
4.  Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif
Rasional
1.  Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.
2. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan
     kebutuhan cairan pengganti.
3. Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
4. Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan         :  Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan
Intervensi
1.  Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
2.  Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan.
3.  Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
4.  Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
Rasional
1.  Menurunkan kebutuhan metabolic
2.  Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi.
3.  Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
4.  Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
5.  Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut

Dx.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
Tujuan         : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal
Intervensi
1.    Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
2.    Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen
3.    Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan air setelah defekasi dan berikan perawatan kulit
4.    Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
5.    Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
Rasional
1.    Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
2.    Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping
3.    Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
4.    Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis
5.    Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Tujuan         :  Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.
Intervensi
1.    Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.
2.    Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama
3.    Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.
Rasional
1.    Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah
2.    Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian.
3.    Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan

Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
Tujuan         : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
Intervensi
1.    Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.
2.    Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
3.    Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul
4.    Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
Rasional
1.    Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.
2.    Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
3.    Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.
4.    Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya

Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru
Tujuan         : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan
Intervensi
1.    Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam perawatn yang dilakukan
2.    Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin
3.    Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan tingkat perkembangan klien
Rasional
1.    Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan
2.    Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress
3.    Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimun
D.  Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya
E.   Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauh mana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.

BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Asuhan keperawatan keluarga merupakan salah satu bentuk dari asuhan keperawatan  yang bersifat komprehensip karena yang dikaji adalah semua anggota keluarga dalam satu rumah. Asuhan keperawatan keluarga pada anak usia prasekolah lebih mengkhususkan pengkajian pada anak usia prasekolah. Anak usia prasekolah adalah usia yang rentan berbagai macam penyakit. Untuk itu pengawasan pada anak usia prasekolah sangat penting agar anak tidak terkena penyakit

3.2         Saran
Bagi mahasiswa, sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu ini atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar: