Cari Blog Ini

Memuat...

Arsip Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 05 Maret 2011

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN PENYAKIT TBC

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien asuhan keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia – sia jika tidak dilanjutkan oleh keluarga di rumah. Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat, sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pemberian pelayanan kesehatan, perawat harus memperhatikan nilai – nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat menerimanya.
Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan yang diberikan di tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap memiliki otonomi untuk memutuskan hal – hal yang terkait dengan masalah kesehatannya. Perawat yang melakukan keperawatan di rumah bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk mencegah penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di Indonesia belum ada lembaga ataupun organisasi perawat yang mengatur pelayanan keperawatan di rumah secara administratif.

1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga.

1.2.2        Tujuan khusus
(1)   Mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC
(2)   Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC
(3)   Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan
(4)   Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan
(5)   Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan
(6)   Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga

1.3  Manfaat
(1)   Agar mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga
(2)   Agar Mahasiswa mampu mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC
(3)   Agar mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC
(4)   Agar mahasiswa mampu merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan
(5)   Agar mahasiswa mampu melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan
(6)   Agar mahasiswa mampu mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan
(7)   Agar mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Konsep Anak Usia Sekolah 
Anak merupakan bagian atau anggota keluarga, sering dikatakan sebagai potret atau gambaran dari orang tuanya saat masih kecil. Namun tidaklah demikian, karena anak merupakan individu tersendiri yang bertumbuh dan berkembang secara unik dan tidak dapat diulang setelah usianya bertambah.
Menurut UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah menikah. Saat ini yang disebut anak bukan lagi yang berumur 21 tahun, tetapi berumur 18 tahun, seperti yang ditulis Hurlock (1980) masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun.
Meskipun demikian, anak masih dikelompokkan lagi menjadi tiga sesuai dengan kelompok usia, yaitu: usia 2-5 tahun disebut usia prasekolah; usia 6-12 tahun sisebut usia sekolah; dan usia 13-18 tahun disebut usia remaja.
Anak usia sekolah dapat disebut sebagai akhir dari masa kanak-kanak sejak usia 6 tahun atau masuk sekolah dasar kelas satu, ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. 
Selama “pertengahan tahun” masa kanak-kanak ini, dasar-dasar untuk peran dewasa dalam pekerjaan, rekreasi, dan interaksi sosial terbentuk. Dinegara-negara industri periode ini dimulai saat anak mulai masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun, pubertas sekitar usia 12 tahun merupakan tanda akhir masa kanak-kanak menengah. Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalam ketrampilan fisik, kognitif, dan psikososial. Selama masa ini anak menjadi lebih baiak dalam berbagai hal; misalnya, mereka dapat berlari lebih cepat dan lebih jauh sesuai perkembangan kecakapan dan daya tahannya.
Sekolah atau pengalaman pendidikan memperluas dunia anak dan merupakan transisi dari kehidupan yang secara relatif bebas bermain ke kehidupan dengan bermain, belajar, dan bekerja yang terstruktur. Sekolah dan rumah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan penyesuaian dengan orang tua dan anak, anak harus belajar menghadapi peraturan dan harapan yang dituntut oleh sekolah dan teman sebaya. Orang tua harus membiarkan anak-anak membuat keputusan menerima tanggung jawab dan belajar dari pengalaman kehidupan.
Saat anak melalui penyesuaian ini, perawat membantu meningkatkan kesehatannya. Hal ini dilakukan dengan membantu orang tua dan anak mengidentifikasi stresor potensial dan merancang intervensi untuk meminimalkan stres dan respons stres anak. Intervensi melibatkan orang tua, anak dan guru untuk mencapai keberhasilan yang maksimal.

2.2  Konsep Minat
Dalam psikologi pendidikan, konsep minat diniterpretasikan sebagai variabel motivasi konten spesifik yang dapat diselidiki dan secara teori dapat direkonstruksi. Minat yang terkait dengan kejuruan berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja dan berkembang semakin stabil. (Holland, 1997). Secara karakteristik, konten atau objek pola minat seorang individu digunakan untuk menjelaskan kepribadiannya serta untuk membuat perkiraan tentang pilihan masa depan.
Dalam konteks pendidika, minat diterjemahkan sebagai variabel motivasi spesifik konten yang memiliki pengaruh penting pada pembelajaran dan arah perkembangan manusia. Sebagian besar minat yang relevan untuk pembelajaran dan pekerjaan tersedia untuk beberapa periode waktu yang terbatas saja dan didorong oleh rangsangan eksternal (minat situasional). Namun ada juga minat spesifik konten yang bertahan agak stabil untuk periode waktu yang lebih lama dan sebagiannya merupakan makna utama dalam rangkaian kehidupan pribadi yang berkembang. Oleh sebab itu minat manusia pada dasarnya tidak dipandang sebagai ciri-ciri  pribadi yang stabil (sifat) namun lebih sebagai komponen sistem motivasi yang rumit pada seseorang yang mengalami perubahan perkembangan yang permanen.

2.3  Perkembangan Minat
Para ahli teori Pendidikan selalu ingin memelihara perkembangan minat yang bertahan di sekolah (secara pendidikan bernilai) yang dipandang sebagai tujuan pendidikan supraordinat. Diasumsikan juga bahwa hubungan berbasis minat yang stabil dan memuaskan pada wilayah objek yang dipilih secara bebas merupakan dasar utama untuk perkembangan manusia dan kesehatan mental (Deci&Ryan,2002; U Schiefele,1978).
Pengalaman tertarik dalam situasi pembelajaran selalu merupakan hasil dari sebuah interaksi antara faktor personal dan situasional. Dalam pelatihan kejuruan, misalnya, minat situasional dapat diciptakan dengan presentasi “menarik” tentang topik terkait kejuruan atau dengan kesempatan untuk belajar bagaimana menyelesaikan sebuah masalah subjektif yang bermakna.). Faktor menarik dalam sebuah situasi spesifik membangkitkan minat baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Tiga jenis minat, yang dari perspektif ontogenetic merepresentasikan tiga tahap prototipikal( dasar) perkembangan minat :
a.    Minat situasional yang dibangkitkan atau didorong oleh stimulus eksternal untuk pertama kali
b.    Minat situasional yang bertahan selama tahap pembelajaran tertentu
c.    Minat individual yang merepresentasikan predisposisi yang relatif bertahan untuk menunaikan wilayah objek minat tertentu.
Individu memiliki pengaruh yang besar pada perkembangan dirinya sendiri dari mulai masa kanak-kanak dan seterusnya. Pada usia yang sangat muda, seseorang telah mulai mempengaruhi “objek” dalam lingkungan fisik dan sosial dalam mendukung kebutuhan aktualnya dan tujuan pribadinya


2.4  Teori Minat Objek-Orang (Person-Object Theory of Interest / POI )
Temuan empiris menunjukkan bahwa motivasi belajar berdasarkan minat, cenderung memiliki pengaruh positif pada proses dan hasil pembelajaran. Minat umumnya dipahami sebagai sebuah fenomena yang muncul dari interaksi individu dengan lingkungannya.
Konten sebuah minat dapat diinterpretasikan dari dua perspektif :
1.    Pengetahuan seseorang tentang objek tersebut dan penilaian emosionalnya
2.    Pengalaman subjektif seseorang

2.5  Konsep Minat dari PerspektiKonsep Perspektif Level Analisis Yang Berbeda
 Pada level pertama, minat merujuk pada struktur motivasi individu yang habitual atau disposisional.= minat individu yang telah ada( minat pribadi). Pada level kedua, minat merujuk kepada hubungan/engagement saat ini= minat situasional yaitu minat yang dipengaruhi faktor eksternal.

2.6  Ciri-Ciri Umum Minat
a.    Aspek Kognitif
Dari segi ciri-ciri kognitif, diasumsikan bahwa sebuah minat berkembang, dan komponen struktur berubah dari segi representasi kognitif. Penelitian membuktikan bahwa struktur kognitif seseorang berhubungan dengan wilayah pengetahuan minat individu. Berdasarkan gagasan Piaget (1985Berdasarkan 1985) bahwa minat bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan kemampuan (akomodasi) dan mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan yang ada pada situasi yang baru (asimilasi), seseorang dapat menginterpretasikan aktifitas berbasis minat sebagai sebuah kombinasi dua proses yang saling berhubungan erat (Krapp,2003)
b.   Ciri-Ciri Emosional
Menurut Prenzel (1988) dan U. Schiefele (1991) perasaan senang, keterlibatan, stimulasi dan ketegangan dalam arti tingkat optimal pembangkit adalah aspek emosional yang paling tipikal dalam aktifitas berbasis minat. Merujuk Self Determination Theory (SDT; Deci & Ryan, 1985,2002;Ryan,1995), telah dinyatakan bahwa pengalaman emosional dianggap berkaitan dengan kebutuhan kompetensi dasar, otonomi dan keterkaitan sosial untuk mensifati pengalaman emosional minat spesifik (Krapp, 2005).
c.    Ciri-Ciri Yang Terkait Dengan Nilai
POI mengasumsikan bahwa minat seorang individu berhubungan erat dengan sistem dirinya (cf. Deci&Ryan, 1985;Fend,1994; Hannover,1997,1998; Kuhl,200,2001; Sheldon&Elliot,1998). POI nilai komponen sebuah minat juga dirujuk dengan menggunakan konsep “self intentionality” untuk memperjelas bahwa tujuan dan maksud yang berhubungan dengan wilayah objek sebuah minat sesuai dengan sikap, ekspektasi, nilai dan aspek lain dari sistem diri seseorang

BAB  III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
PADA an “r” dengan masalah menurunnya minat terhadap tugas sekolah 

3.1 Pengkajian
Pengkajian (Tanggal. 5 Februari 2010)

A.    Data Umum

Nama   KK                  : Tn “A”
Umur                            : 45 tahun
Pendidikan                   : SMU
Pekerjaan                     : Pekerja pabrik
Alamat                         : Desa Sumberagung, Jombang
Daftar anggota keluarga
No
Nama
L/P
Umur
Hub.
Pend.
Pekerjaan
Status kesehatan
1
2
3
4
Tn “L”
Ny “R
Anak “C”
Anak “D”
L
P
P
L
45 th
40 th
13 th
9 th
Suami
Istri
Anak
Anak
D2
SMEA
SMP
SD

Pekerja pabrik Penjahit
Sekolah
Sekolah
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat





Genogram













                                 





                                                                                                                











Keterangan :
                        : laki-laki                                 : meninggal laki-laki
                        : Perempuan                          : meninggal perempuan                     
                       : anggota keluarga yang sakit/ mempunyai masalah
1.      Tipe keluarga                                 : Extended family
Yang terdiri dari ayah, ibu serta dua anak Kewargaan negara / suku bangsa       :  Indonesia / Jawa.
2.      Agama                                           : Islam.
3.      Status sosial ekonomi keluarga :
Penghasilan keluarga Rp. 750.000,- sampai Rp. 1.200.000,- perbulan. Suami bekerja Sbagai buruh pabrik yang gajinya dibayar tepat setiap bulan. Disamping pekerjaan suami, istri juga membantu menambah penghasilan melalui menjahit baju-baju pesanan tetangga. Dalam memenuhi keperluan sehari-hari dikatakan cukup.
4.      Aktivitas rekreasi keluarga :
Kegiatan yang dilakukan keluarga untuk rekreasi nonton TV dan mendengarkan radio di rumah. Kadang-kadang kumpul-kumpul dengan sanak saudara atau tetangga dekatnya.

B.     Riwayat Perkembangan Keluarga

1.      Pada saat ini keluarga Tn L sedang berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah, karena anak pertama berumur 13 tahun dan anak ke dua berumur 9 tahun keduanya masih belajar di Sekolah Dasar.
2.      Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi: adalah keluarga telah memenuhi tahap perkembangannya, hanya kurangnya perhatian orang tua kepada anak kedua karena An”D” susah diatur dan sering tidak mengerjakan tugas sekolah.
3.       Riwayat kesehatan keluarga
Semua anggota keluarga Tn”L” dalam keadaan sehat hanya An”D” yang sedang flu.
4.      Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (yang lalu)
Dari hasil pengkajian didapatkan data bahwa anggota keluarga yang lainya tidak ada yang sakit-sakitan /  tidak pernah mempunyai riwayat  penyakit menular atau penyakit kronis yang berat, biasanya hanya batuk pilek atau kecapaian saja.

C.    Keadaan Lingkungan

1.      Karakteristik Rumah
Luas rumah yang ditempati sekitar 72 m2 (6 m x 12 m), terdiri dari 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 ruang dapur dan 1 kamar mandi dan didepan ada teras rumah. Bangunan rumah berbentuk persegi panjang. Lantai rumah terbuat dari tegel dengan keadaan cukup bersih dan penataan alat / perabot rumah tangga yang cukup rapi, penerangan dan ventilasi cukup. Sumber air minum menggunakan air sumur yang sudah dimasak dan untuk keperluan sehari-hari juga menggunakan air sumur.









U
                            sumur
  Kios
        


T




B
                                          Teras
  kamar                          Ruang tamu


S
  jahit
                                         Km tidur
  Dapur










    Km                          
  makan                   kamar tidur 

      Denah Rumah Keluarga Tn ” L

2.      Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Keluarga TnL  hidup dilingkungan tempat tinggal yang padat penghuni dan sebagian besar dari tetangga di lingkungan tempat tinggal keluarga Tn “L adalah penduduk asli yang merupakan pekerja pabrik. Interaksi antar warga banyak dilakukan pada waktu sore dan malam hari dikarena pada siang hari umumnya pada bekerja.

3.      Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Tn “L sudah menempati rumah yang ditempatinya sejak berumah tangga sampai sekarang, tempat tinggalnya berdampingan dengan saudara lainya.

4.      Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga termasuk anggota masyarakat yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan masyarakat, karena kesibukanya bekerja pada siang hari, tetapi dengan keluarga di lingkungannya tampak saling berinteraksi dengan baik. An”D” juga sering bermain dengan teman sebayanya.

5.      Sistem pendukung keluarga.
Keluarga Tn “L 4 orang, terdiri dari suami istri, dua anak, 1 perempuan dan 1 laki-laki. Jika ada anggota keluarga yang sakit semua saling memperhatikan. Hal ini temasuk terhadap An”D” meskipun kadang nakal.
Fasilitas penunjang kesehatan yang dimiliki keluarga cukup baik, ada uang simpanan yang bisa digunakan untuk berobat jika ada aanggota keluarga yang sakit, tidak tersedia obat P3K dalam rumah.
Jika ada anggota keluarga yang sakit biasanya berobat ke Puskesmas Sumberagung.

D.    Struktur Keluarga
1.      Pola komunikasi keluarga
Keluarga mengatakan, komunikasi jarang dilakukan untuk minta pertimbangan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Antar anggota keluarga terbina hubungan yang kurang harmonis, dalam menghadapi suatu permasalahan, jarang dilakukan musyawarah keluarga untuk memutuskan suatu permasalahan. Baik Tn”L” maupun Ny”R” jarang menemani anak belajar karena merasa tidak punya waktu untuk menemani mereka. Jika An”C” tidak ada pekerjaan rumah kadang-kadang menemani An”D” balajar.

2.      Struktur Kekuatan Keluarga:
Didalam aktivitas sehari-hari keluarga kurang memperhatian satu sama lain, ayah dan ibu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

3.      Struktur Peran Keluarga
a.       Tn L sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam membimbing dan mendidik anak-anak serta mengatur rumah maupun orang tuanya.
b.      Ny “R” selain mengasuh anak juga membantu menambah penghasilan dengan menerima jahitan dari tetangga.
c.       Kedua anak Tn L melaksanakan perannya sebagai anak sekolah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. An”D” sering tidak mengerjakan tugas sekolah sehingga sering mendapat hukuman.
4.      Nilai dan norma keluarga.
Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan dengan nilai dalam agama islam yang dianutnya serta norma masyarakat disekitarnya.

E.     Fungsi Keluarga
1.      Fungsi Afeksi
Menurut keterangan keluarga, dalam kehidupan sehari-harinya mereka selalu dama dan anggota keluarga saling menyayangi.

2.      Fungsi Sosial
Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku sosial yang baik. Seperti memenuhi kebutuhan pendidikan, kalau ada kegiatan kemasyarakatan, keluarga  ikut didalamnya.

3.      Fungsi Perawatan Kesehatan.
Keluarga tidak mampu mengenal masalah kesehatan tentang penyakit.
Keluarga mempunyai kesadaran tentang terciptanya lingkungan yang sehat, hal ini di buktikan dengan aktivitas keluarga bila ada waktu luang membersihkan ruangan, lingkungan sekitar rumah tampak bersih, hanya kalau pekerjaan menjahit belum selesai tampak berserakan dilantai.
Untuk Ny “R” sering kurang menjaga aktifitas menjahitnya seperti kalau sudah menjahit lupa akan makan dan istirahat, terkadang sampai larut malam untuk mengejar target pesanan jahitannya.
Selama ini keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, berupa Puskesmas dan dokter praktek swasta selain juga membeli obat bebas di toko atau mengkonsumsi obat tradisional.

4.      Fungsi Reproduksi
Tn L saat ini sudah berusia 45 tahun dan Ny “R” 40 tahun menjadi akseptor KB AKDR alasanya sudah tidak menginginkan punya anak lagi. Selama melahirkan mulai anak pertama sampai anak terakhir, tidak mengalami gangguan yang berarti.

5.      Fungsi Ekonomi
Keluarga Tn L menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan setiap hari. Menurut pengakuan keluarga penghasilan tiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika ada sisa keuangan, maka disimpan untuk keadaan yang mendadak bagi keluarga.

F.     Stress dan Koping Keluarga
1.      Stressor yang dimiliki
Stressor jangka panjang yang dirasakan oleh keluarga Tn L adalah An”D” yang sering masuk BK karena sering tidak mengerjakan tugas.
2.      Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Orang tua kurang kurang memperhatikan masalah An”D” dan menyerahkan permasalahan tersebut ke guru BK.
3.      Strategi koping yang digunakan
Dalam menghadapi suatu permasalahan, biasanya keluarga Tn L jarang mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan. Tn”L” biasanya meminta An”C” untuk menemani An”D” untuk belajar, sedangkan Tn”L” menonton TV sedangkan Ny”R” melanjutkan menjahit pakaian.

G.    Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga terutama yang diidentifikasi sebagai klien atau sasaran pelayanan asuhan keperawatan keluarga.
1)      Pemeriksaan fisik umum:
Keadaan umum Ny “P” tampak masih kuat (ringas) walau memasuki umur lansia, tetapi badannya kurus dan kecil, makan dan minum masih dalam batas normal,
Tanda-tanda vital :
Tekanan darah       : 140 / 90  mmHg.
Respirasi                : 24 x/mnt
Suhu                      : 36,2 0C
TB                         : 145 cm
2)      Pemeriksaan fisik khusus:
¨      Kepala dan leher
Pada pemeriksaan kepala, tidak terdapat adanya benjolan, bentuk kepala normal.
¨      Leher   : Pada leher tidak nampak adanya peningkatan tekanan vena  jugularis dan arteri carotis, nyeri saat dilakukan penekanan pada daerah oksipital. Juga tidak teraba / terlihat adanya pembesar kelenjar tiroid (strauma).
¨      Mata    : Konjungtiva tidak terlihat anemis, kelopak mata tidak terdapat udema, kornea tampak warna putih, penglihatan masih baik.
¨      Hidung : tidak ada kelaianan yang ditemukan.
¨      Mulut :  bibir tidak kering dan tidak terlihat tanda – tanda sianosis atau stomatitis..
¨      Dada   : Pergerakan dada terlihat saat inspirasi, Suara jantung S1 dan S2 tunggal, tidak terdapat palpitasi, suara mur – mur, ada ronchi (+), wheezing (+), nafas cuping hidung (-).
¨      Abdomen : Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran hepar, tidak kembung, pergerakan peristaltik usus baik, tidak ada bekas luka operasi.
¨      Ektrimitas :Pada ekstrimitas atas dan bawah tidak terdapat udema, tidak terjadi kelumpuhan, dari ke-4 ektrimitas mampu menggerakan persendian, mampu mengangkat dan melipat persendian secara sempurna otot sudah tipis, tampak pembuluh darah mengambang dan kulit keriput.

H.    Harapan Keluarga
Keluarga Tn L berharap anggota keluarga dapat berperan masing-masing tanpa ada yang mengalami gangguan kesehatannya. Sehingga semua bisa berjalan lancar tanpa hambatan. An”D” rajin mengerjakan tugas sekolahnya dan mematuhi peraturan sekolah.

1.2  Analisa  Data
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.




















Data Subyektif:
§  Ny “R” mengatakan sering mendapat surat dari pihak sekolah karena anaknya sering tidak mengerjakan tugas. Ny”R” juga mengatakan tidak punya waktu untuk menemani anak belajar
§  An “D” mengatakan malas mengerjakan tugas jika tidak ditemani ibu atau ayah, anak juga merasa tugas yang di berikan sangat sulit  
Data obyektif:
§  Anak kelihatan malas dan kurang minat menegerjakan tugas
§  Jarang balajar
§  Kurang lancar dalam membaca.

Ketidakefektifan peran orang tua
















Menurunnya minat terhadap tugas sekolah



















3.3 Diagnosa Keperawatan
1.      Menurunnya minat terhadap tugas sekolah yang dibebankan berhubungan dengan ketidakefektifan peran orang tua

3.4  Intervensi
1.      Menurunnya minat terhadap tugas sekolah yang dibebankan berhubungan dengan ketidakefektifan peran orang tua
Tujuan :
a.       Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga memahami paran masing-masing anggota keluarga terutama peran orang tua.
b.      Anggota keluarga akan memahami peran masing-masing
c.       Anak mampu menyelesaikan tugas dan menjalankan perannnya di sekolah
d.      Anak mengalami peningkatan belajar.



3.4 Rencana Asuhan Keperawatan
NoDx
Tujuan
Kriteria evaluasi
Intervensi
Umum
Khusus
Kriteria
Standar
1.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga memahami paran masing-masing anggota keluarga terutama peran orang tua.
-         Anggota keluarga akan memahami peran masing-masing
-         Anak mampu menyelesaikan tugas dan menjalankan perannnya di sekolah
-         Anak mengalami peningkatan belajar.
Verbal pengetahuan
·         Keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda dan gejala penyakit tuberculosa.
·         Keluarga dapat mengidentifikasi gejala  tuberculosa.
·         Keluarga dapat memutuskan tindakan yang harus dilakukan bila obat habis.
1.      Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit tuberculosa.
2.      Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada keluarga Tn L.
3.      Kaji tindakan yang pernah dilakukan terhadap Ny “P”.
4.      Diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit tuberculosa.
5.      Diskusikan dengan keluarga cara mengiidentifikasi serangan.
6.      Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan berulang.
7.      Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan setiap kali diskusi.
8.      Berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti.
9.      Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga.
10.  Berikan pujian terhadap kemampuan positif yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi.
2.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami kondisi yang lebih buruk.
-      Dapat menjelaskan akibat tuberculosa terhadap kondisi pasien sendiri dan keluarganya
-      Dapat menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa.
-      Dapat menyebutkan upaya untuk mencegah  terjadinya penularan.
Verbal
-      Klien dan keluarga  dapat menjelaskan akibat tuberculosa
-      Klien dan keluarga dapat menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa
-      Klien dan keluarga dapat menyebutkan upaya untuk mencegah  terjadinya penularan.
1.      Kaji pengetahuan keluarga.
2.      Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada Ny “P”.
3.      Kaji tindakan yang pernah dilakukan bila Ny “P” mengalami rasa tidak enak.
4.      Diskusikan dengan keluarga tentang akibat penyakit  tuberculosa terhadap diri dan keluarganya.
5.      Diskusikan dengan keluarga tentang bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa.
6.      Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya Penularan.
7.      Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan setiap kali diskusi.
8.      Berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti.
9.      Evaluasi secara singkat terhadap  topik yang didiskusikan dengan keluarga.
10.  Berikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi.


3.5 Implementasi dan Evaluasi
No DK
Diagnosa Keperawatan
Tanggal
Implementasi
Evaluasi
1
Resiko penularan penyakit tuberculosa berhubungan dengan Ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit tuberculosa.

10 Februari 2003
-          Penyuluhan tentang :
-          pengertian tuberculosa
-          Penyebab tuberculosa
-          Tanda dan gejala tuberculosa
-          Faktor resiko tuberculosa
-          Akibat tuberculosa
-          Upaya pencegahan tuberculosa
S :
-          Mengatakan mengerti maksud dan tujuan kunjungan hari ini.
-          Menyebutkan tanda dan gejala tuberculosa .
-          Menyebutkan  faktor resiko yang menyebabkan tuberculosa
-          Menyebutkan akibat tuberculosa bila tidak dirawat
-          Menyebutkan cara mencegah timbulnya tuberculosa
O :
-          Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi
-          Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dapat dilakukan
-          Keluarga dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang baik
-          Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung
-          Keluarga dapat menyebutkan pengertian tuberculosa
A : Masalah teratasi sebagian
P :  Lanjutkan intervensi


2
Resiko terjadinya komplikasi penyakit tuberculosa berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal.

13 Februari 2003
Memeberi penyuluhan tentang akibat tuberculosa terhadap diri dan orang lainnya
S :
-            keluarga dapat menjelaskan akibat tuberculosa bagi diri dan keluarga lainya
-            menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa.
-            menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya penularan.
O :
-            keluarga dapat menjelaskan akibat tuberculosa bagi diri dan keluarga lainya
-            menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa.
-            menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya penularan.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi



BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
  • Keluarga  adalah unit terkecil masyarakat, terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya
  • Proses keperawatan merupakan pusat bagi semua tindakan keperawatan, yang dapat diaplikasikan dalam situasi apa saja, dalam kerangka referensi tertentu, konsep tertentu, teori atau falsafah
  • Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan pada klien dengan penyakit TBC harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan

4.2 Saran
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan pada keluarga.

Tidak ada komentar: