Cari Blog Ini

Memuat...

Arsip Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 05 Maret 2011

BIOLOGI MOLEKULER DAN TEORI PROSES PENUAAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Dahulu para ilmuan telah membuat teori tentang penuaan seperti Aristoteles dan Hipocrates yang berisi tentang suatu penurunan suhu tubuh dan cairan secara umum. Sekarang dengan seiring jaman banyak orang yang melakukan penelitian dan penemuan dengan tujuan supaya ilmu itu dapat semakin jelas, komplek dan variatif. Ahli teori telah mendeskripsikan proses biopsikososial penuaan yang kompleks. Tidak ada teori yang menjelaskan teori penuaan secara utuh. Semua teori masih dalam berbagai tahap perkembangan dan mepunyai keterbatasan. Namum perawat dapat menggunakannnya untuk memahami fenomena yang mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan klien lansia.
Proses menjadi tua itu pasti akan dialami oleh setiap orang dan menjadi dewasa itu pilihan. Penuaan bukan progresi yang sederhana, jadi tidak ada teori universal yang diterima yang dapat memprediksi dan menjelaskan kompleksitas lansia.
Peran teori dalam memahami penuaan adalah sebagai landasan dan sudut pandang untuk melihat fakta, menjawab pertanyaan filosofi, dan dasar memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Penuaan pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa bagian seperti biologi, psikologi, social, fungsional dan spiritual.
 Biologi molekular dapat didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul. Namun, istilah ini biasanya digunakan dalam arti lebih terbatas berarti mempelajari makromolekul seperti protein, DNA, dan RNA, dan peran khusus dalam sistem kehidupan.


1.2         Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1.       Mempelajari tentang biologi molekuler.
2.       Memehami penyebab proses penuaan dan bagaiman proses penuaan sel terjadi.
3.       Mengetahui teori-teori penuaaan

1.3         Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
-          Bagi mahasiswa agar sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu tersebut atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia
-          Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Biologi Molekuler
Biologi molekular bisa didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul, Tujuan akhir studi biologi molekular adalah memahami dasar-dasar molekular yang menentukan sifat dan fenomena. Beberapa aspek biologi yang secara khusus dipelajari dalam biologi molekular antara lain adalah bahan genetik dan proses sintesis protein. Kedua aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena proses sintesis protein tergantung pada informasi yang ada pada bahan genetik. Di lain pihak, replikasi bahan genetik juga tergantung pada aktivitas bermacam-macam protein. Pembahasan mengenai kedua aspek tersebut dapat diperluas mulai dari struktur dasarnya sampai proses pengendalian sintesisnya. Studi mengenai bahan genetik dan proses sintesis protein akhirnya mampu menyingkap perbedaan yang lebih dalam antara kelompok jasad prokaryotik dan eukaryotik. Dengan demikian, perbedaan antara kedua kelompok jasad tersebut tidak hanya perbedaan morfologi dan sifat-sifat fisiologi saja. Penelitian jaga menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan-perbedaan mendasar antara kedua kelompok jasad tersebut, namun terdapat kesamaan-kesamaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan satu sama lain. Studi mengenai urutan nukleotida pada RNA ribosom, misalnya, menjadi salah satu dasar untuk klasifikasi jasad hidup selular.
Penerapan biologi molekuler untuk studi penuaan baru dimulai tahun 1980-an. Kebanyakan penelitian awal pada penuaan difokuskan pada pengembangan eksperimen dengan binatang untuk mempelajari tentang penuaan, menjelaskan berbagai proses penuaan, dan karakteristik perubahan berhubungan dengan usia pada manusia dan hewan . Yang menarik adalah kebutuhan untuk mengidentifikasi dan kuantitas perubahan yang berkaitan dengan usia dalam ekspresi gen. Hal ini menjadi mungkin sekali gen dapat digandakan dan digunakan sebagai penyelidikan untuk mengukur jumlah molekul messenger RNA yang ada dalam sel di bawah kondisi tertentu, seperti usia tertentu, status gizi, atau status penyakit. pengukuran tersebut memberikan informasi tentang tingkat transkripsi dari setiap gen yang diberikan ke messenger RNA, serta tingkat terjemahan dari RNA menjadi protein. Kemampuan untuk mengukur jumlah relatif dari molekul messenger RNA spesifik dalam sel membuat lompatan kuantum ke depan di akhir 1990-an dengan pengembangan teknologi untuk melakukan analisis dengan menggunakan tag neon dan ribuan gen yang diteliti ditempelkan dengan kaca kecil atau filter. Mikroarray ini mampu melakukan ribuan pengukuran dalam percobaan tunggal, dan dengan demikian dapat mempercepat penelitian.
Kemampuan untuk mengkloning gen dan memanipulasi urutan DNA menimbulkan pendekatan baru untuk memahami bagaimana fungsi gen dalam sel melalui percobaan tikus yang diubah secara genetik. Penelitian ini sekarang disebut genomik fungsional. Tahun 1990-an ada eksploitasi untuk memperkenalkan gen baru ke dalam tikus dan overexpressing gen ini. Eksperimen ini sangat penting dalam mengembangkan penelitian penyakit manusia yang berkaitan dengan usia dan sindrom seperti penyakit Alzheimer, penyakit Huntington, sklerosis lateral sclerosis, sindrom Werner, dan distrofi otot. Genetik tikus yang diubah juga berguna untuk mempelajari fungsi sel normal. Sebagai contoh, pengenalan dan lanjutan dari gen telomerase pada sel manusia dalam kultur ditunjukkan untuk mencegah blok proliferasi yang biasanya terjadi setelah sekitar lima puluh sampai delapan puluh pembelahan sel sel manusia, dengan demikian menunjukkan bahwa pemendekan telomere ini dapat menyebabkan penuaan replikatif. Sebuah tantangan yang tersisa penting adalah untuk mengembangkan strategi yang lebih baik untuk mengubah transgen ini.
Baru-baru ini kemajuan dalam genetika manusia dan biologi molekuler telah meningkatkan pemahaman kita tentang penuaan. Kemajuan ini meliputi identifikasi gen yang penting dalam penuaan dan studi genetik dari penyakit germline yang menyebabkan penyakit germline yang menyebabkan penuaan dini.

2.2         Radikal Bebas
Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang  memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Merupakan juga suatu kelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas.
Pada proses metabolisme normal, tubuh memproduksi partikel kecil dengan tenaga besar disebut sebagai radikal bebas. Atom atau molekul dengan elektron bebas ini dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga dan beberapa fungsi fisiologis seperti kemampuan untuk membunuh virus dan bakteri. Namun oleh karena mempunyai tenaga yang sangat tinggi, zat ini juga dapat merusak jaringan normal apabila jumlahnya terlalu banyak. Radikal bebas dapat mengganggu produksi DNA, lapisan lipid pada dinding sel, mempengaruhi pembuluh darah, dan produksi prostaglandin.
Radikal bebas juga dijumpai pada lingkungan, beberapa logam (misalnya besi, tembaga), asap rokok, polusi udara, obat, bahan beracun, makanan dalam kemasan, bahan aditif, dan sinar ultraviolet dari matahari maupun radiasi.
Atom sering kali melengkapi lapisan luarnya dengan cara membagi elektron-elektron bersama atom yang lain. Dengan membagi elektron, atom-atom tersebut bergabung bersama dan mencapai kondisi stabilitas maksimum untuk membentuk molekul. Oleh karena radikal bebas sangat reaktif, maka mempunyai spesifitas kimia yang rendah sehingga dapat bereaksi dengan berbagai molekul lain, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan DNA. Dalam rangka mendapatkan stabilitas kimia, radikal bebas tidak dapat mempertahankan bentuk asli dalam waktu lama dan segera berikatan dengan bahan sekitarnya. Radikal bebas akan menyerang molekul stabil yang terdekat dan mengambil elektron, zat yang terambil elektronnya akan menjadi radikal bebas juga sehingga akan memulai suatu reaksi berantai, yang akhirnya terjadi kerusakan sel tersebut.
[Oxygen atom][O2 molecule]



freerad001    

Gambar 1. Struktur kimia radikal bebas

Radikal bebas diproduksi dalam sel yang secara umum melalui reaksi pemindahan elektron, menggunakan mediator enzimatik atau non-enzimatik. Produksi radikal bebas dalam sel dapat terjadi secara rutin maupun sebagai reaksi terhadap rangsangan. Secara rutin adalah superoksida yang dihasilkan melalui aktifasi fagosit dan reaksi katalisa seperti ribonukleotida reduktase. Sedang pembentukan melalui rangsangan adalah kebocoran superoksida, hidrogen peroksida dan kelompok oksigen reaktif (ROS) lainnya pada saat bertemunya bakteri dengan fagosit teraktifasi. Pada keadaan normal sumber utama radikal bebas adalah kebocoran elektron yang terjadi dari rantai transport elektron, misalnya yang ada dalam mitokondria dan endoplasma retikulum dan molekul oksigen yang menghasilkan superoksida.
Dalam kondisi yang tidak lazim seperti radiasi ion, sinar ultraviolet, dan paparan energi tinggi lainnya, dihasilkan radikal figure3bebas yang sangat berlebihan.

 

 


tekanan oksidatif (oxidative stress) adalah suatu keadaan dimana tingkat oksigen reaktif intermediate (ROI) yang toksik melebihi pertahanan anti-oksidan endogen. Keadaan ini mengakibatkan kelebihan radikal bebas, yang akan bereaksi dengan lemak, protein, asam nukleat seluler, sehingga terjadi kerusakan lokal dan disfungsi organ tertentu. Lemak merupakan biomolekul yang rentan terhadap serangan radikal bebas.

v  Pertahanan sel terhadap radikal bebas

Sifat reaktif yang tersebar dari sistem pembentukan radikal dalam sel menyebabkan evolusi mekanisme pertahanan terhadap efek perusakan suatu bahan teroksidasi kuat. Gambar dibawah ini menunjukkan aktifitas enzim intraseluler tersebut. SOD (superoksida dismutase dan katalase) mengkatalisasi dismutasi dari superoksida dan hidrogen peroksida. GSH (glutation) peroksidase mereduksi  peroksida hidrogen dan organik menjadi air dan alkohol.
GSH S-transferase melakukan pemindahan residu glutation menjadi metabolit elektrofilik reaktif dari xenobiotic. Produksi glutation teroksidasi (GSSG) direduksi secara cepat oleh reaksi yang menggunakan NADPH yang dihasilkan dari berbagai sistem intraseluler, diantaranya hexose-monophosphate shunt. Berbagai isoenzim organel spesifik dari dismutase superoksida juga ditemukan. SOD Zn, Cu merupakan sitoplasmik, sedangkan enzim Zn, Mn mitokondrial. Isoenzim ini tidak ditemukan dalam cairan ekstraseluler.
figure6





Gambar 3. Enzim-enzim pertahanan antioksidan

Beberapa bahan tereduksi juga bekerja sebagai antioksidan, reduksi kelompok radikal aktif seperti radikal peroksi dan hidroksi menjadi bentuk yang kurang reaktif misalnya air. Seperti halnya pembangkitan kembali oksigen singlet. Penggabungan tersebut juga mengakhiri reaksi radikal berantai.
Pertahanan antioksidan kimiawi bagai pedang bermata dua. Pertama, saat bahan tereduksi menjadi radikal maka derivat radikalnya juga terbentuk. Sehingga, jika suatu radikal sangat tidak stabil, reaksi radikal berantai mungkin akan berlanjut. Kedua, bahan tereduksi dapat mereduksi oksigen menjadi superoksida atau peroksida merupakan radikal hidroksil dalam reaksi auto-oksidasi. Ascorbat dan asam urat dapat berfungsi sebagai anti oksidan, ikut serta secara langsung dalam auto-oksidasi, baik melalui reduksi aktifator oksigen lain seperti rangkaian logam transisi atau quinone, atau bertindak sebagai kofaktor enzim. 
Proses tersebut dapat melibatkan kemampuan askorbat untuk depolimerisasi DNA, hambatan Na+/K+ ATPase otak, potensiasi toksisitas paraquat, dan sebagai mediator peroksidasi lemak. Juga mempunyai kontribusi kelainan patofisiologi dari metabolisme purin. Sifat yang sesungguhnya campuran pro atau antioksidan untuk bahan pereduksi khusus adalah integrasi kompleks dari beberapa faktor. Pada kasus zat pembersih radikal hidroksil, produk dari interaksi radikal dengan antioksidan umumnya kurang reaktif dibanding radikal hidroksil. Radikal yang terbentuk tersebut cukup stabil dan dalam konsentrasi cukup tinggi namun dapat terjadi mekanisme seperti pada glutation dan superoksida. pH sangat mempengaruhi reduksi langsung oksigen menjadi superoksida oleh senyawa sulfidril, sedangkan faktor lokal lainnya seperti konsentrasi molar dari molekul oksigen juga punya peranan penting.
Oksigen singlet dan bagian triplet molekul yang tereksitasi mungkin disempurnakan melalui interaksi bersama sistem konjugasi sistem diene seperti yang ditemukan pada karoten, tokoferol, atau melanin. Seperti antioksidan pereduksi, senyawa tersebut dapat juga menghasilkan jenis elektron aktif dan mungkin juga penyakit.
Tabel 2. Antioksidan dan enzim pembersih (scavenging)
Antioksidan
Glutathione

Sulfhydryl
Vitamin C

Vitamin E

β-carotene
Uric acid

Bilirubin
Coenzyme Q 10

Antioksidan utama didalam dan diluar sel. Dalam sel 2-10 mM, plasma 5-25 μM
Cysteine dan homocysteine
Antioksidan hidrofilik pada ekstraseluler 40-140 μM dalam plasma
Pembersih pada ruang hidrofobik dalam plasma terikat pada LDL 0.5-1.6 mg/dl (10-40 μM)
0.055 mg/dl
Hasil metabolik adenosin dan xantine. Antioksidan kuat terhadap radikal hidroksil (HO)
Antiokasidan hidrofobik terikat pada albumin 20 μM
0.08 mg/dl
Enzim pembersih
SOD
Cu/Zn-SOD
Mn-SOD
Extracelluler SOD (EC-SOD)
Catalase
GSH peroxidase
GSSG reductase
Thioredoxin system

Terdapat pada semua sel mamalia
Sitosol, eritrosit 2300 unit/g Hb
Mitokondria
Plasma dan endotel permukaan, terikat pada heparin

Peroksisum, RBC 153.000 unit/g Hb
Sitosol (75%), mitokondria (25%)
NADPH dependent
Regulasi redok
Binding protein
Albumin
Ceruloplasmin
Transferin

Antioksidan kuat 0.5 mM dalam plasma
Aktifitas feroksidase 15-60 mg/dl plasma
Membersihkan Fe bebas 200-400 mg/dl
Metalothionein
Membersihkan logam berat

2.3         Reactive oxygen species (ROS)
Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS), termasuk didalamnya adalah triplet (3O2), tunggal (singlet/1O2), anion superoksida (O2.-), radikal hidroksil (-OH), nitrit oksida (NO-), peroksinitrit (ONOO-), asam hipoklorus (HOCl), hidrogen peroksida (H2O2), radikal alkoxyl (LO-), dan radikal peroksil (LO-2).
Radikal bebas yang mengandung karbon (CCL3-) yang berasal dari oksidasi radikal molekul organik. Radikal yang mengandung hidrogen hasil dari penyerangan atom H  (H-). Bentuk lain adalah radikal yang mengandung sulfur yang diproduksi pada oksidasi glutation menghasilkan radikal thiyl (R-S-). Radikal yang mengandung nitrogen juga ditemukan, misalnya radikal fenyldiazine.

Tabel 1: Radikal bebas biologis

Kelompok oksigen reaktif

O2·
Radikal Superoksida (Superoxide radical)
·OH
Radikal hidroksil (Hydroxyl radical)
ROO·
Radikal peroksil (Peroxyl radical)
H2O2
Hydrogen peroksida (Hydrogen peroxide)
1O2
Oksigen tunggal (Singlet oxygen)
NO·
Nitrit oksida (Nitric oxide)
ONOO
Nitrit peroksida (Peroxynitrite)
HOCl
Asam hipoklor (Hypochlorous acid)

Oksigen merupakan unsur penting bagi kehidupan organisme. Sebagai kekuatan oksidan, oksigen molekuler di satu pihak bermanfaat sebagai kemampuan dasar degradasi oksidatif, yaitu sebagai substrat pada respirasi. Di pihak lain, oksigen dapat menimbulkan kerusakan karena berperan sebagai prekursor pada spesies oksigen reaktif (reactive oxygen spescies, ROS) yang menimbulkan kerusakan komponen intraseluler termasuk DNA. Untuk mengurangi pengaruh kerusakan yang ditimbulkan oleh ROS, organisme hidup mampu menjalankan mekanisme multisistem antiROS, namun pada saat tertentu ROS diperlukan untuk kepentingan biologis. ROS berperan sebagai pertahanan biologis, yaitu fagositosis dan pesan jelek apoptosis, yaitu prgogram kematian sel, dan mungkin sebagai komponen yang diduga berperan pada sistem mutator dengan meningkatnya penyimpangan genetik pada populasi (Skulachev 2000).
Walaupun oksigen (O2) esensial untuk kebanyakan proses kehidupan, molekul tersebut dapat berubah menjadi molekul yang memiliki toksisitas tinggi. Satu dari kebanyakan senyawa reaktif adalah superoksida anion (O2-) yang merupakan radikal bebas. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mengandung elektron yang tidak berpasangan pada orbit luarnya. Molekul terdiri atas atom dengan elektron yang berpasangan pada kulit terluarnya, namun pada suatu kondisi, molekul atau atom yang memiliki elektron yang tidak berpasangan biasanya mengambil elektron lain dari sekitarnya untuk dijadikan sebagai pasangannya. Radikal bebas umumnya merusak molekul lain, misalnya molekul pada sel (Noguchi dan Niki 1999, Cambel dan Smith 2000).
Spesies oksigen reaktif selalu dihasilkan secara normal dalam proses produksi energi, sintesis senyawa biologis, dan fagositosis pada sistem imun. Di lain pihak peningkatan aktivitas spesies oksigen reaktif bisa menyebabkan sejumlah penyakit termasuk penyakit jantung, kanker, dan penuaan (Noguchi dan Niki 1999).
Asam lemak tidak jenuh mengakibatkan lemak peka terhadap serangan oksigen sehingga menimbulkan perubahan struktur kimia. Dalam sistem seluler peroksidasi terjadi pada biomembran di mana kandungan asam lemak tidak jenuh yang ada menjadi sangat reaktif. Peroksidasi lemak adalah proses reaksi kimia yang sangat kompleks termasuk melibatkan radikal bebas, ion logam, dan sistem biologik (Jadhav et al. 1996). Ada beberapa hubungan saling mempengaruhi antara kesehatan diet antioksidan dan ROS, mungkin bergantung pada status kesehatan, secara individual dan mungkin juga kepekaan secara genetik. Pada penelitian secara klinik pada suplementasi antioksidan terjadi perubahan baik pada status oksidatif, risiko penyakit atau kejadian penyakit yang telah mempengaruhi kesehatan individu, risiko sejumlah penyakit pada populasi atau pasien yang sedang menjalani pengobatan (Seifried et al. 2003).
Pada saat fagositosis, makrofag dan neutrofil sebagai sel efektor juga memproduksi oksigen toksik gabungan fagosom dan lisosom menjadi fagololisosom yang bertugas membantu membunuh dan menelan mikroorganisme. Kebanyakan kejadian yang penting di antaranya adalah kerja hidrogen peroksida (H2O2), superoksida anion (O2-), dan nitrogen oksida (NO), secara langsung toksik pada bakteri. Semuanya ini dihasilkan melalui oksidasi oleh NADPH dan enzim yang laindalam proses yang dinamakan respiratory burst, sebagai akibat dari naiknya jumlah konsumsi oksigen sementara. Aktivitas makrofag sangat efisien dalam menghancurkan patogen, aktivitas ini secara in vivo biasanya bersamaan dengan kerusakan jaringan secara lokal yang disebabkan oleh keluarnya mediator antimikrobial sebagai radikal bebas, NO dan protease, yang juga toksik terhadap sel inang. Kemampuan aktivitas makrofag untuk mengeluarkan mediator toksik adalah pada pertahanan inang karena kemampuannya melawan patogen ekstraseluler yang tidak tertelan (Abbas et al. 2000, Janeway et al. 2001).
Nitrogen oksida adalah molekul yang penting yang mempengaruhi sistem kardiovaskuler, NO merupakan senyawa yang bersifat toksik dan berumur pendek, berupa molekul gas yang diproduksi oleh enzim NO synthase, dengan cara mengubah asam amino arginin menjadi NO dan sitrulin (Becker et al. 2000). Molekul NO berperan penting sebagai regulator kardiovaskuler bertindak untuk mengatur tekanan darah. Molekul ini diproduksi oleh neuron dan makrofag, memiliki jumlah elektron ganjil dan sebagai radikal bebas. Molekul ini relatif stabil namun bereaksi cepat bila bertemu dengan senyawa yang mengandung elektron yang tidak berpasangan, misalnya molekul oksigen misalnya anion superoksida dan ion logam (Cambel dan Smith 2001).
Penelitian terahir menggambarkan bahwa inducible nitricoxyde synthase (iNOS) terlibat dalam kelainan metabolik yang dihubungkan dengan inflamasi kronis tingkat ringan, aterosklerosis, dan peningkatan tumour necrosis factor (TNF) (Muntalib 2003).
Peran sitokin pada patogenesis dan imunitas terhadap MD, yang diinduksi oleh virus herpes menyebabkan limfoma pada sel T. Pada ayam umur 21 hari yang diinfeksi MDV, peningkatan transkipsi IF-Y setelah 3 hari p.i sampai akhir percobaan, yaitu 15 hari p.i, dimana iNOS dan IL-1ß mengalami peningkatan antara 6 sampai 15 hari p.i. Pada ayam umur 1 hari p.i mRNA untuk untuk mengekspresikan IF-Y dan iNOS, antara 16 sampai dengan 64 kali pada 9 hari p.i. Kesimpulan dapat diambil dimana iNOS berperan pada patogenesis MD (Xing dan Schat 2000).
Radikal bebas diproduksi secara normal pada fungsi imunitas, diperlukan oleh sel imun untuk membunuh patogen dan mengeluarkannya, dalam keadaan overproduksi pada kondisi patogenik menyebabkan kerusakan sel imun dan menimbulkan imunosupresi. Eritrofagositosis juga terjadi pada penyakit Marek oleh makrofag. Dibutuhkan keseimbangan oksidan-antioksidan untuk mengatur fungsi sistem imun dalam menjaga integritas dan fungsi lipida membran, protein seluler, asam nukleat serta mengatur ekspresi gen (Wu dan Meydani 1999, Gilka dan Spencer 1995).
Stres oksidatif dapat dipandang sebagai gangguan keseimbangan antara produksi oksidan dan antioksidan defense atau destruksi reactive oxygen species (ROS); seperti anion superoksida (.O2-), radikal hidroksil (.OH), hidrogen peroksida (H2O2), radikal nitrit oksida (.NO) dan periksonitrit (ONOO-). Ketidakseimbangan preoksidan ini dapat menyebabkan oksidasi makromolekul; meliputi lipid, karbohidrat, asam amino, protein dan DNA, diikuti dengan kerusakan selular dan jaringan. Reaktivitas oksigen mempunyai peranan penting karena yang melandasi kekuatan destraksi adalah radikal bebas tersebut. Seperti diketahui, oksigen terpapar luas di lingkungan sehingga tubuh manusia akan mengonsumsi sekitar 250 gram oksigen setiap hari. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 3 - 5% dikonversi menjadi anion perioksida (.O2-) dan spesies reaktif lainnya.
Beberapa ROS yang mempunyai peranan penting untuk disfungsi endotel; antara lain anion superoksida (.O2-), hidrogen peroksida (H2O2) dan peroksinitrit (ONOO-). Berbagai enzim juga terlibat untuk pembentukan anion superoksida (.O2-) di sitosol endotel terutama NADPH oksidase yang merupakan protein transmembran, dan berbagai enzim sitosolik lainnya seperti siklooksigenase (COX), nitrit oksida sintase (NOS), lipoksigenase (LO), dan sitokrom P-450. Reaksi transpor elektron di mitokondria dapat menjadi sumber pembentukan .O2-. Melalui aktivitas Mangan-superoksida-dismustase (MmSOD) pada mitokondria dan atau Cu / ZnSOD pada sitosol), superoksida (.O2-) mengalami konversi menjadi H2O2. Hidrogen peroksida (H2O2) oleh glutation peroksidase dan thioredoksin peroksidase pada sitosol dan oleh katalase diperoksisom direduksi menjadi air. Makrofag dapat memproduksi juga anion superoksida .O2- melalui aktivitas NADPH oksidase, kemudian mengalarni dismutasi oleh SOD ekstraselular (Ec SOD) menjadi H2O2. Enzim myeloperoksidase yang terdapat pada makrofag terlibat juga pembentukan radikal hipoklorida (HOCL) yang lebih reaktif dari H2O2.
Pembentakan ROS dalam pembuluh darah sebagian besar dimulai dengan reduksi satu elektron pada molekul oksigen untuk membentuk anion superoksida .O2- yang pembentukannya semakin meningkat pada proses aterosklerosis. Beberapa sumber penghasil anion superoksida .O2- dalam pembulah vaskular antara lain sel-sel fagosit (monosit dan makrofag) berinfiltrasi ke dalam subendotel, sel endotel vaskular, sel-sel otot polos vaskular (vascular smooth muscle cells, VSMC) dan fibrobias.
Anion superoksida .O2- yang keluar dari atau diproduksi di luar sel-sel endotel vaskular mengalami konversi dengan bantuan SOD ekstraselular (Ec SOD) menjadi hidrogen peroksida SE (H2O2). Sedangkan anion superoksida .O2- yang diproduksi di dalam sel endotel akan konversi dengan bantuan Cu/Zn SOD dan Mn SOD menjadi hidrogen peroksida H2O2 yang dapat langsung bergerak menembus membran sel. Hidrogen peroksida H2O2 yang berada di ruang ekstraselular kemudian akan dikonversi menjadi spesies oksigen yang sangat reaktif yaitu asam hipoklorida (HOCL), oleh enzim aktivitas myeloperoksidase dalam sel-sel fagosit pada lesi aterosklerosis pada manusia. Beberapa jenis asam lemak dalam tubuh dapat dikelompokkan menjadi asam lemak tak jenuh jamak yang dikenal sebagai PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid). Itu kelompok asam lemak yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan tidak dapat diganti senyawa lain. PUFA terdiri dari induk asam lemak esensial atau esential fatty acid (EFA) dan asam lemak tidak jenuh turunannya yang berantai panjang atau long chain more unsaturated derivatives (LCPUFA). EFA tidak dapat disentesa denovo (dalam tubuh) manusia. Karena itu, EFA harus menjadi bagian dari menu yang dikonsumsi. Ada dua kelompok PUFA yaitu n-6 atau Omega-6 dan n-3 atau Omega-3, yang berturut-turut disintesa dari asam linoleat (LA) serta asam alpha linolenat (ALNA). Peran EFA sudah diungkapkan sejak tahun 1929, tetapi banyak terfokus pada Omega-6. Baru tahun 1970-an peran Omega-3 mulai dianggap penting berdasarkan penelitian terhadap orang-orang Eskimo yang banyak makan ikan. Kini baik Omega-6, Omega-3, dan Omega-9, terbukti berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, serta mencegah beberapa penyakit kronis.

2.4         Program Genetik
DNA adalah inti yang menyusun setiap manusia di bumi ini. DNA seperti database yang berisikan data yang “membentuk” setiap manusia. Misalnya warna kulit, jenis/warna rambut, warna mata, dan lain sebagainya. Semua tersimpan didalam DNA. Semua bermula dari sel, DNA berada dipusat sel manusia, para ahli mempelajari bagaimana membaca DNA dan bahkan mencoba melakukan manipulasi terhadap DNA.
Awal tahun 1950, James Watson dan Francis Crick mengemukakan mengenai struktur DNA, ini adalah penemuan terbesar abad ke-20 dalam ilmu biologi. Bahasa DNA tertulis dalam 4 huruf kimia yaitu A, C, G dan T. Dimana, A untuk Adenin, C untuk Cytosin, G untuk Guanin, dan T untuk Thiamin. Kelompok huruf ini menguraikan kumpulan informasi yang kita kenal dengan sebutan “gen”. 
Kloning merupakan sel yang berlipat ganda dengan menciptakan suatu tiruan yang sama persis. Kloning secara alamiah terjadi pada wanita yang mengandung anak kembar di rahimnya, embrio melakukan kloning dengan sendirinya sehingga pecah menjadi dua dan terlahirlah anak kembar. Embrio tercipta dari pertemuan sperma dan sel telur pada saat terjadi coitus (hubungan seksual), jutaan sperma berenang dan hanya satu yang berhasil mencapai sel telur untuk selanjutnya terjadi pembuahan, kemudian suatu embrio yang unik terbentuk. Para ahli biologi, mencoba merekonstruksi sel dan berusaha menumbuhkan embrio. Diharapkan, organ baru dapat terbentuk dengan rekayasa sel, untuk memperbaiki organ tubuh manusia yang rusak. Walaupun dengan tujuan medis, ini tetap menuai kontroversi.
Selain kloning, para ilmuwan juga mempelajari DNA untuk mencoba memprediksi sifat manusia. Struktur DNA seperti sebuah kode kehidupan yang berisi kumpulan informasi yang menguraikan bagaimana manusia akan berkembang dan menjalani hidupnya.
Para ahli juga mempelajari sel untuk memperlambat proses penuaan atau memperpanjang usia, percobaan ini telah dilakukan pada hewan, apabila ini dapat dilakukan pada manusia, diperkirakan manusia masa kini dapat bertahan hidup hingga usia 150 tahun. Tapi, tubuh manusia sangatlah kompleks, tubuh manusia terdiri dari milyaran sel yang berbeda, sebagian ada yang diproduksi tanpa henti. Sel darah merah terbentuk 174 milyar setiap hari untuk membawa oksigen didalam tubuh, dan 10 milyar sel darah putih terbentuk untuk melawan penyakit.
Hipotesis regulasi gen menyatakan bahwa gen-gen berperan penting dalam siklus hidup organisme. Menurut hipotesis telomere, proses penuaan terjadi karena pemendekan telomere selama pembelahan sel. Hipotesis stres oksidatif menyatakan bahwa akumulasi berbagai spesies reaktif, termasuk radikal-radikal bebas, menyebabkan kerusakan pada sel-sel, yang pada akhirnya menyebabkan penuaan.
Banyak dari teori penuaan yang masuk dalam hipotesis neuroendokrin dan neuroendokrin-imun mengandung gagasan bahwa aksis hipothalamus-hipophysis adrenal terlibat di dalam proses penuaan.
Dari berbagai teori tersebut (hipotesis “evolusi”, hipotesis regulasi gen, hipotesis telomere, hipotesis stres oksidatif, hipotesis neuroendokrin, dan hipotesis neuroendokrin-imun), sejauh ini hipotesis stres oksidatif adalah yang paling banyak menerima dukungan ketimbang teori-teori lainnya. Namun, tidak lantas berarti bahwa lebih dari 300 hipotesis lainnya tidak sesignifikan teori ini, karena pemahaman kita tentang fenomena penuaan masih terus berkembang.
Sumber energi yang tersedia bagi organisme terbagi menjadi tiga aktivitas penting, yakni etabolisme dasar, pemeliharaan tubuh (soma), dan reproduksi. Metabolisme dasar meliputi sintesis biokimia, respirasi, pergantian sel, pergerakan, pencernaan, dan eksresi. Pemeliharaan tubuh meliputi perbaikan DNA, pertahanan anti-oksidan, pembuangan dan perbaikan protein, respon imun, mekanisme proof-reading untuk sintesis makromolekul, detoksifikasi senyawa berbahaya, pemulihan luka, homeostatis, stabilitas epigenetik dari sel-sel yang berdiferensiasi, apoptosis, deposisi lemak, perawatan bulu. Semua pemeliharaan ini memerlukan energi yang besar.
2.5         Ketidakstabilan Genom
Karakteristik sel yang tidak stabil adalah adanya sejumlah kerusakan yang tertunda, yang meliputi aberasi kromosom, mikronuklei, kematian reproduktif, mutasi dan amplifikasi gen, laju mutasi yang tinggi pada lokus yang berbeda dan/atau kegagalan dalam membagi kromosom pada saat mitosis karena adanya perubahan ploidi sehingga menghasilkan sel aneuploid. Besarnya respon dan karakteristik sel tidak stabil bergantung pada LET dan dosis radiasi, serta jenis dan genetik sel.
Kejadian ketidakstabilan genom akibat radiasi pertama kali dilaporkan oleh Weissenborn dan Streffer tahun 1988. Mereka mengamati pembentukkan aberasi baru pada sel embrio tikus yang dipapar neutron atau sinar X pada mitosis kedua dan ketiga setelah paparan.
Paparan radiasi dosis rendah menyebabkan kerusakan yang tidak bersifat letal pada sel dan akan diekspresikan setelah beberapa generasi pada turunan sel yang terpajan radiasi tersebut. Keadaan ini aka mengarah pada peningkatan frekuensi perubahan genetic pada sel anak. Kerusakan atau ketidakstabilan akibat radiasi yang dimaksud telah dipelajari secara in vitro dan in vivo pada berbagai jenis sel. Pengujian dilakukan terhadap berbagai hasil akhir kerusakan yang tertunda, seperti transformasi malignansi, kematian reproduktif, aberasi kromosom dan mutagenesis.
Sejumlah jalur metabolisme yang kompleks mengatur duplikasi dan distribusi DNA secara akurat; dan sejumlah jalur lain mempertahankan integritas informasi yang disandi DNA dan mengatur ekspresi gen selama pertumbuhan dan perkembangan. Secara keseluruhan, semua jalur tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas genom. Pada setiap fungsi jalur ini terdapat suatu frekuensi latar normal yang bila terjadi perubahan atau kesalahan maka akan mengarah pada mutasi spontan dan anomali genom lainnya.
Sementara multipel fenotip yang berhubungan dengan ketidakstabilan genom akibat radiasi telah diketahui karakteristiknya, tetapi kejadian molekuler, biokimia, genetik dan seluler yang menginisiasi dan mempertahankan ketidakstabilan pada beberapa generasi masih belum diketahui. Kerusakan DNA yang diinduksi secara langsung seperti double strand breaks kemungkinan tidak secara langsung sebagai penyebab ketidakstabilan genom. Tetapi, kesalahan sel dalam merespon kerusakan DNA tersebut, perubahan ekspresi gen atau perubahan homeostatis sel nampaknya lebih terlibat dan memberikan penjelasan kenapa terbentuk fenotip tidak stabil.
Sejumlah gen berperan dalam transfer informasi genetik secara akurat dari satu sel ke turunannya pada setiap siklus pembelahan. Mutasi pada stabilitas genom suatu gen akan menjadi kejadian awal proses karsinogenesis dan mungkin menghasilkan multipel mutasi yang diamati pada tumor. Berbagai bukti mengimplikasikan peran kejadian ekstra nuclear, dan bahkan ekstra seluler, dalam menginisiasi dan mempertahankan ketidakstabilan kromosom akibat radiasi. Aktivasi jalur transduksi sinyal dan ekspresi gen alternatif dapat sebagai jalur tidak langsung pada instabilitas genom.
Karakteristik yang berbeda dari klon tidak stabil, mengindikasikan bahwa ketidakstabilan genom disebabkan oleh kejadian yang bervariasi, antara lain perubahan ekspresi gen yang berfungsi dalam mempertahankan stabilitas genom. Contoh gen seperti itu adalah gen yang berperan dalam replikasi DNA, sintesa deoksinukleotida, perbaikan DNA, checkpoints siklus sel, dan kejadian mitosis. Gen yang banyak dibutuhkan untuk mempertahankan kestabilan genom hanya sebagian saja yang berperan dalam induksi ketidakstabilan. Proses perbaikan yang salah terhadap kerusakan dapat menyebabkan inaktivasi gen tumor supresor, gen APC dan reseptor beta TGF tipe II.
Tedapat bukti peningkatan reactive oxygen species (ROS) dalam kultur sel yang menunjukkan ketidaktabilan genom akibat radiasi. Studi ini menunjukkan adanya pengaruh tekanan oksigen dalam mempertahankan fenotip atau sel yang tidak stabil. Sel dengan kondisi hipoksia (kandungan oksigen sekitar 2%) secara nyata mereduksi efek yang diinduksi sinar X, khususnya kematian sel, pembentukan sel giant dan aberasi kromosom, dibandingkan dengan sel dengan oksigen normal 20%.
Perbedaan genetis antar individu menentukan ekspresi ketidakstabilan kromosom yang diinduksi radiasi. Ketidakstabilan kromosom ini dihubungkan pula dengan adanya peningkatan radikal oksida intraseluler, kerusakan basa oksidatif dan peningkatan generasi superoksida. Selain itu, ketidakstabilan genom yang diinduksi radiasi mungkin mempengaruhi proses pemulihan sel dan jaringan.
Pemendekkan telomer adalah bentuk mekanisme lain yang mungkin memberikan kontribusi terhadap ketidakstabilan genom. Telomer merupakan struktur khusus pada bagian ujung kromosom eukariotik. Telomer mengandung ribuan ulangan urutan DNA pendek untuk mempertahankan stabilitas kromosom secara selaras. Pada sel somatik, telomer memendek setiap putaran replikasi karena polimerase DNA tidak dapat secara sempurna mereplikasi bagian ujung DNA linier. Kehilangan urutan terminal kromosom secara reguler berhubungan dengan umur seluler sehingga telomer bertindak sebagai jam mitosis yang membatasi masa hidup sel somatik. Pemendekan telomer di bawah batas kritis biasanya berhubungan dengan peningkatan dramatis frekuensi aberasi.
Selain kerusakan strand breaks DNA, ketidakstabilan genom dan efek bystander kemungkinan besar dimediasi oleh tekanan dari metabolisme oksidatif, dan inflamasi. Tumor Necrosis Factor α (TNFA) sebagai sitokin pro-inflammatory selain terlibat dalam penyakit peradangan (rheumatoid arthritis dan penyakit Crohn), juga dalam respon terhadap radiasi. Terbukti bahwa inisiasi ketidakstabilan genom sel yang diirradiasi secara langsung direduksi dengan inaktivasi TNFA. Pemblokan aktivitas TNFA mereduksi ketidakstabilan genom, ini berarti TNFA berperan dalam inisiasi penurunan atau transmisi ketidakstabilan genom ke sel anak.

2.6         Teori Penuaan
Proses penuaan terdiri atas teori-teori tentang penuaan, aspek biologis pada proses menua, proses penuaan pada tingkat sel, proses penuaan menurut sisem tubuh, dan aspek psikologis pada proses penuaan. Teori-teori tentang penuaan sudah banyak yang dikemukakan, namun tidak semuanya bisa diterima.
v  Teori Biologis
Teori penuaan biologis merupakan suatu teori yang menjelaskan tentang suatu proses atau mekanisme yang terjadi pada struktur dan fungsional tubuh pada masa usia lanjut. Penuaan bukan hanya disebabkan oleh salah satu proses biologis saja,tetap juga dipengaruhi oleh berbagai perubahan system secara simultan,yang terjadi didalam tubuh individu.
Perubahan ini mengakibatkan penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan respon terhadap tekanan-tekanan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara tepat. Teori penuaan biologis ini terbagi lagi dalam tiga bagian yaitu:
1.    Teori penuaan sel.
Teori penuaan sel merupakan suatu teori yang mebahas dan memfokuskan pada perubahan degenerative(kemerosotan) yang terjadi pada sel individu, disamping itu mekanisme yang menyebabkan sel tubuh menua adalah oksidasi radikal bebas. Perubahan struktur kolagen dan elastin, rusaknya DNA serta penurunan system imun secara progressif, merupakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan radikal bebas. Rangkaian kovalen hydrogen yang saling menyilang antara molekul yang saling berdekatan merupakan konsekuensi dari peningkatan umur karena oksidasi radikal bebas. Rangkaian lurus antara molekul yang saling berdekatan ini juga mengakibatkan perubahan konfigurasi fungsional yang signifikan. Contohnya, penuaan identik dengan elastisitas kulit,serta penurunan fleksibiitas dan gerakan. Semua ini terjadi akibat perubahan intrinsik sel karena proses penuaan sel.
2.    Teori genetik
Teori penuaan genetik merupakan salah suatu teori biologis yang lebih memfokuskan pada peran herediter(keturunan) sebagai salah satu faktor yang mengakibatkan proses penuaaan. Penuaan merupakan hasil dari penurunan integritas dari nukleotida DNA. Penurunan DNA menyebabkan gangguan kemampuan sel untuk terus memproduksi sel-sel baru, meskipun pada beberapa tingkat DNA terjadi mutasi pada semua tahapan kehidupan, beberapa sel DNA sulit terealisasi untuk terus hidup, akibatnya penuaan sel tidak dapat dihindari lagi sehingga terjadi penuaan .
3.    Teori kontrol.
Teori penuaan kontrol  menjelaskan bahwa, penuaan merupakan suatu proses system yang spesifik untuk mengatur fungsi-fungsi fisiologis pada tubuh individu. Kemerosotan umur sering dihubungkan dengan menurunnya fungsi system imun tubuh, lansia tidak hanya mengalami aktivitas pada sel-T, tetapi juga mengakibatkan sel imun rentan akan serangan penyakit. Major Histocompatibility Complex(MHC) merupakan serangkaian komplek gen yang menjaga rantai fungsional antara sel,gen dan kontrol fungsi fisiologis. MHC tidak hanya menjaga kefungsionalan sel imun, tetapi juga mengatur fungsi oksidatif, selain itu juga menjaga sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Pada lansia kontrol system imun lebih banyak terjadi pada MHC, selain system imun, neuroendokrin dan system saraf pusat juga menjadi pengatur dari perubahan penurunan fungsi pada lansia.
v  Teori Psikososial
Adapun mengenai kelompok teori psikososial, berturut-turut dikemukakan beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Disengagement theory
Kelompok teori ini dimulai dare University of Chicago, yaitu Disengagement Theory, yang menyatakan bahwa individu dan masyarakat mengalami disengagement dalam suatu mutual withdrawl (menarik diri). Memasuki usia tua, individu mulai menarik diri dari masyarakat, sehingga memungkinkan individu untuk menyimpan lebih banyak aktivitas-aktivitas yang berfokus pada dirinya dalam memenuhi kestabilan pada stadium ini.
2.      Teori aktivitas
Menekankan pentingnya peran serta dalam kegiatan masyarakat bagi kehidupan seorang lansia. Dasar teori ini adalah bahwa konsep diri seseorang bergantung pada aktivitasnya dalam berbagai peran. Apabila hal ini lulang, maka akan berakihat negatif terhadap kepuasan hidupnya. Ditekankan pula bahwa mutu dan jenis interaksi lebih menentukan daripada jumlah interaksi. Hasil studi serupa ternyata menggambarkan pula bahwa aktivitas informal lebih berpengaruh daripada aktivitas formal. Kerja yang menyibukkan tidaklah meningkatkan self esteem seseorang, tetapi interaksi yang bermakna dengan orang lainlah yang lebih meningkatkan self esteem.
3.      Teori kontinuitas
Berbeda dan kedua teori sebelumnya, di sini ditekankan pentingnya hubungan antara kepribadian dengan kesuksesan hidup lansia. Menurut teori ini, ciri-ciri kepribadian individu berikut strategi kopingnya telah terbentuk lama sebelum seseorang memasuki usia lanjut. Namun, gambaran kepribadian itu juga bersifat dinamis dan berkembang secara kontinu. Dengan menerapkan teori ini, cara terbaik untuk meramal bagaimana seseorang dapat berhasil menyesuaikan diri adalah dengan mengetahui bagaimana orang itu melakukan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan selama hidupnya.
4.      Teori subkultur
Pada teori subkultur (Rose, 1962) dikatakan bahwa lansia sebagai kelompok yang memiliki norma, harapan, rasa percaya, dan adat kehiasaan tersendiri, sehingga dapat digolongkan selaku suatu subkultur. Akan tetapi, mereka ini kurang terintegrasi pada masyarakat luas dan lebih banyak berinteraksi antar sesama mereka sendiri. Di kalangan lansia, status lebih ditekankan pada bagaimana tingkat kesehatan dan kemampuan mobilitasnya, bukan pada hasil pekerjaan/pendidikan/ekonomi yang pernah dicapainya. Kelompok-kelompok lansia seperti ini bila terkoordinasi dengan baik dapat menyalurkan aspirasinya, di mana secara teoretis oleh Para pakar dikemukakan bahwa hubungan antar-peer group dapat meningkatkan proses penyesuaian pada masa lansia.
5.      Teori stratifikasi usia
Teori ini yang dikemukakan oleh Riley (1972) yang menerangkan adanya saling ketergantungan antara usia dengan struktur sosial yang dapat dijelaskan sebagai berikut. (a) Orang-orang tumbuh dewasa bersama masyarakat dalam bentuk kohor dalam artian sosial, biologis, dan psikologis. (b) Kohor baru terus muncul dan masing-masing kohor memiliki pengalaman dan selera tersendiri. (c) Suatu masyarakat dapat dibagi ke dalam beberapa strata sesuai dengan lapisan usia dan peran. (d) Masyarakat sendiri senantiasa berubah, begitu pula individu dan perannya dalam masing-masing strata. (e) Terdapat saling keterkaitan antara penuaan individu dengan perubahan sosial. Kesimpulannya adalah, lansia dan mayoritas masyarakat senantiasa saling memengaruhi dan selalu terjadi perubahan kohor inaupun perubahan dalam masyarakat.
6.      Teori penyesuaian individu dengan lingkungan
Teori ini dikemukakan oleh Lawton (1982). Menurut teori ini, bahwa ada hubungan antara kompetensi individu dengan lingkungannya. Kompetensi di sini berupa segenap proses yang merupakan ciri fungsional individu, antara lain: kekuatan ego, keterampilan inotorik, kesehatan biologik, kapasitas kognitif, dan fungsi sensorik. Adapun lingkungan yang dimaksud mengenai potensinya untuk menimbulkan respons perilaku dari seseorang. Bahwa untuk tingkat kompetensi seseorang terdapat suatu tingkatan suasana/ tekanan lingkungan tertentu yang menguntungkan baginya. Orang yang berfungsi pada level kompetensi yang rendah hanya mampu bertahan pada level tekanan lingkungan yang rendah pula, dan sebaliknya. Suatu korelasi yang sering berlaku adalah semakin terganggu (cacat) seseorang, maka tekanan lingkungan yang dirasakan akan semakin besar.

v  Teori kultural
Ahli antropologi menjelaskan bahwa tempat kelahiran seseorang berpengaruh pada budaya yang dianut oleh seseorang. Hal ini juga dipercaya bahwa kaum tua tidak dapat mengabaikan sosial budaya mereka. Jika hal ini benar maka status tua dalam perbedaan sosial dapat dijelaskan oleh sejarah kepercayaan dan tradisi.
Blakemore dan Boneham yang melakukan penelitian pada kelompok tua di Asia dan Afro – Caribbean menjelaskan bahwa kaum tua merupakan komunitas yang minoritas yang dapat menjamin keutuhan etnik, ras dan budaya.
Sedangkan Salmon menjelaskan tentang konsep “ Double Jeoparoly “ yang digunakan untuk karakteristik pada penuaan. Penelitian umum pada kelompok Afrika – Amerika dan Mexican American yaitu jika budaya membantu umtuk menjelaskan karakteristik penuaan, maka hal ini merupakan tuntutan untuk dapat digunakan dalam pemeriksaan lebih lanjut.
Budaya adalah attitude, perasaan, nilai , dan kepercayaan yang terdapat pada suatu daerah atau yang dianut oleh sekelompok orang kaum tua , yang merupakan kelompok minoritas yang memiliki kekuatan atau pengaruh pada nilai budaya.Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa budaya yang dimiliki seseorang sejak lahir akan tetap dipertahankan sampai tua. Bahkan mempengaruhi orang – orang disekitaryauntuk mengikuti budaya tersebut sehingga tercipta kelestarian budaya.

v  Teori spiritual
Pada dasarnya, ketika seseorang menjadi tua akan menjadi :
1.      Menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi
2.      Melaksanakan amanah agama yang dianut, dengan berdoa demi kententraman hidup pribadi dan orang lain
3.      Menuju penyempurnaan diri dan mengarah pada pencerahan atau pemenuhan diri untuk dapat mengarah pada kemanunggalan dengan Illahi
Melalui pengalaman hidup, setiap orang akan berupaya menjadi lebih arif dan akan mengembangkan dirinya ke labih yang berarti : melalui prestasi yang diraihnya di kala muda, seseorang akan berupaya meraih nilai-nilai luhur di hari tua – khususnya keserasian hidup dengan lingkungannnya.
Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh usia lanjut sebagai upaya dalam meniti dan meningkatkan taraf kehidupan spiritual yang baik antara lain :
1.      Mendalami kitab suci sesuai agama masing-masing supaya kekurangan dan kesalahan yang sudah dilakukan dapat diperbaiki
2.      Melakukan latihan meditasi
3.      Berdoa untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan YME, dengan berani dan terbuka mengakui kesalahan dan melakukan pertaubatan
4.      Kotemplasi, pelibatan diri dalam kondisi dan situasi yang sesuai dengan kitab suci dan diaplikasikan dalam kehidupan masa kini

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1.    Biologi molekular bisa didefinisikan sebagai studi biologi pada tingkat molekul, Tujuan akhir studi biologi molekular adalah memahami dasar-dasar molekular yang menentukan sifat dan fenomena.
2.    Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang  memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya.
3.    Produksi radikal bebas dalam sel dapat terjadi secara rutin maupun sebagai reaksi terhadap rangsangan.
4.    Radikal bebas terpenting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS),
5.    Kerusakan oksidatif sel disebabkan oleh Reaktif Oksigen Spesies (ROS). Radikal bebas yang dihasilkan selama proses metabolisme memberikan kontribusi dalam proses penuaan.
6.    Bahasa DNA tertulis dalam 4 huruf kimia yaitu A, C, G dan T. Dimana, A untuk Adenin, C untuk Cytosin, G untuk Guanin, dan T untuk Thiamin.
7.    Kerusakan DNA yang diinduksi secara langsung seperti double strand breaks kemungkinan tidak secara langsung sebagai penyebab ketidakstabilan genom
8.    Teori-teori penuaan yaitu teori biologis, teori psikososial, teori kultur, teori spiritual.

3.2  Saran
Pemahaman tentang biologi molekuler dan proses menua perlu dimiliki oleh para klinisi, sebab reaksi-reaksi kimia yang menimbulkan kerusakan pada tingkat seluler maupun mekanisme pertahanan tubuh untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat menjelaskan terjadinya fenomena-fenomena klinis sehingga dapat membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
ü  http://www.teoriPenuaan-Venomous Story's.html

Tidak ada komentar: